Politik

Upaya Penghancuran Pemimpin Muda oleh GPK-PD

Jumat, 26 Maret 2021, 11:26 WIB
Dibaca 321
Upaya Penghancuran Pemimpin Muda oleh GPK-PD
Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: viva.co.id)

Umumnya orang yang tidak ikut merasakan keberuntungan atas kejayaan dari sebuah perjuanganlah yang melakukan upaya pelemahan terhadap perjuangan tersebut, karena sejatinya setiap yang turut berjuang mendapatkan bagian dari kejayaan itu.

Namun ada yang justru terjadi sebaliknya, saat sebuah perjuangan itu jaya dan mereka telah banyak mendapatkan keuntungan moril maupun materi malah melakukan upaya pelemahan terhadap keberlanjutan perjuangan tersebut.

Saat perjuangan sedang mengalami masa surut, mereka tidak muncul membantu membangkitkan kejayaan perjuangan yang membutuhkan effor besar dari energi positif mereka. Itulah yang terjadi dan dialami oleh partai Demokrat saat ini, kepemimpinan Agus Harimurti Yudhonono (AHY) dengan semena-mena diambilalih secara paksa oleh para pembegal partai yang disebut gerakkan pengambilalihan kepemimpinan partai Demokrat (GPK-PD).

Mereka adalah manusia-manusia abstrak yang tidak bisa dipegang komitmennya, bagaimana tidak saat partai Demokrat jaya mereka menikmati dalam jangka lama tapi saat partai mengalami kemerosotan dengan perolehan suara anjlok, tidak ada upaya baik dari mereka sebagai karya yang menguatkan keadaan tersebut.

Saat kendali kepemimpinan partai Demokrat dipegang oleh AHY sebagai pemimpin muda (regenerasi), menjalankan roda kepemimpinan dengan semangat muda sebagai kekuatan yang dapat merubah keadaan menjadi lebih baik. Berprinsip bahwa masalah adalah peluang, sehingga sejak ditetapkan AHY sebagai ketua umum (Ketum) partai Demokrat yang dipilih secara aklamasi oleh seluruh pemilik suara sah pada 15 Maret 2020, dimana masa itu hingga saat ini setahun sudah kepemimpinan muda ini melakukan upaya terbaiknya membantu masyarakat yang terdampak kesehatan, keselamatan, ekonomi dari pandemi wabah C-19. Atas kinerja itulah popularitas/elektabilitas partai Demokrat kembali naik hingga masuk dalam tiga besar di beberapa hasil survey, serta bukti kemenangan 48% pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 9 Desember 2020 lalu dari target 30%.  

Merasa tidak menjadi bagian dari kebaikan/prestasi kepemimpinan AHY dengan alasan yang tidak berdasar hukum, kelompok GPK-PD melakukan kudeta pada partai Demokrat. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai penggagas lahirnya partai Demokrat saat itu dan sebagai ketua Majelis Tinggi Partai saat ini, menilai bahwa kepemimpinan AHY sebagai bukti terjadinya kaderisasi yang baik kepada generasi muda untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di partai Demokrat. AHY dengan sukarela tanpa paksaan dan memiliki kemampuan mumpuni sebagai Ketum partai Demokrat periode 2020-2025. Jika para GPK-PD ingin mengambilalih kepemimpinan partai Demokrat sebaiknya dengan mengikuti aturan, ikut mengajukan diri dan berkompetisi pada kongres berikutnya, itu adalah pilihan cerdas di ruang demokrasi. 

Apalagi sangat jelas aturan UU partai politik di pasal 26 ayat 1 yang mengatakan bahwa anggota partai politik yang berhenti atau yang diberhentikan dari kepengurusan dan/atau keanggotaan partai politiknya tidak dapat membentuk kepengurusan dan/atau partai politik yang sama. Mengingat para GPK-PD adalah kader-kader yang telah diberhentikan karena sudah jauh melenceng dari arah dan tujuan partai Demokrat.

Beberapa bukti melencengnya giat kelompok GPK-PD antara lain; 

~ Pernah menikmati kejayaan partai Demokrat.

~ Aturan UU sebagai dasar melakukan kongres luar biasa (KLB) yang ditabrak.

~ Dalam semalam bisa mewujudkan KLB, tanpa izin keramaian dan seterusnya.

~ Menarik kembali laporan tuntutan ke pengadilan oleh kuasa hukum Marzuki Ali.

~ Mengajukan pengesahan hasil KLB ke kementerian hukum dan ham (menkumham) tidak memenuhi syarat pengajuan.

~ Melakukan giat konferensi pers mengambil lokasi di Hambalang dengan maksud mengingatkan kembali kasus Hambalang yang banyak memakan korban kader, alih-alih lupa jika di wilayah Bogor terkenal dengan curah hujan yang tinggi dan petiran sambar yang sangat besar.

Semua yang mereka lakukan tidak sedikitpun memberi aura positif, tidakkan kepada bangsa Indonesia bahkan kepada mereka sendiri. Tuhan masih menjaga dan memberi kesempatan bagi mereka tidak tersambar petir, agar segera sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat merendahkan diri mereka sendiri untuk segera bertobat.

Dengan perilaku mereka yang demikian itu terdampak pula pada psikologi/gangguan mental keluarga di lingkungan sosial (istri, anak, mantu, cucu) seterusnya ke depan.

Tidak salah dengan berpikir idealis, tetapi harus dilihat secara realis bahwa partai Demokrat tanpa SBY tidak ada artinya, karena ketokohan beliaulah kita semua yang merasa Demokrat bersatu dan solid. Politik demokrasi Indonesia menjadikan ketokohan seseorang sebagai penyemangat kerja partai dan ideologi kuat bagi kader, ada beberapa partai lainnya juga demikian. Jika tidak ada ketokohan bisa-bisa partai Demokrat sudah tercerai berai sejak lama, ini adalah realita. Ketokohan inilah sebagai modal kuat yang dapat merekatkan dan mempersatukan seluruh kader Demokrat di seluruh Indonesia. 

Seluruh elemen bangsa berlomba-lomba dalam prestasi terbaik yang bisa bermanfaat bagi pendidikan politik masyarakat serta kemanfaatan lainnya. Arahkan energi positif untuk hal yang menginspirasi lingkungan untuk dikembangkan maka kesulitan, penderitaan, kesusahan yang menghantui bangsa Indonesia dalam setahun ini karena serangan wabah virus corona segera dapat teratasi dan keadaan kembali membaik lebih berkualitas.

Sesuatu yang diawali dengan niat dan cara yang buruk tidak kan bertahan lama karena tanpa disadari terus melemahkan diri mereka sendiri, tanpa harus ikut merubuhkan mereka akan rubuh dengan sendirinya. Sekarang kita hanya dapat melihat bagaimana kelanjutan mereka, di sisi lain partai Demokrat pimpinan AHY terus bekerja untuk rakyat, karena Demokrat adalah bagian dari rakyat.

***