Literasi

Belajar Merdeka

Jumat, 3 September 2021, 21:06 WIB
Dibaca 166
Belajar Merdeka
Nadiem Makarim (Foto: kumparan.com)

Akhir-akhir ini sering terdengar kata belajar merdeka yang digaungkan oleh kementerian pendidikan untuk memacu semangat belajar di masa pandemik wabah yang mengharuskan belajar dari rumah secara online.

Apa sih arti belajar merdeka, secara umum dibayangkan belajar dilaksanakan secara mandiri bagi setiap pelajar dengan kesadaran tinggi dan bertanggung jawab walau dalam situasi pandemik C19 tetapi semangat belajar tidak serta merta menurun. Untuk menghindari terinfeksi virus Corona maka semua kegiatan dilakukan secara digital melalui online yang berarti dikerjakan dari rumah.

Diharapkan belajar merdeka yang dimaksud benar-benar untuk memotivasi seluruh anak didik di Indonesia mulai dari SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Kegiatan belajar menjadi lebih sederhana karena menggunakan teknologi digital yang didukung sikap disiplin dan internet.

Memang untuk beberapa wilayah di Indonesia, belum semua wilayah memiliki ketersediaan internet yang baik akibat belum terbangun jaringan internet utama daerah pelosok namun semua pihak sepertinya memiliki kepedulian dan spirit tinggi untuk bantu merealisasikan agar pelajar tetap dapat belajar dengan baik, seperti salah satunya yang dilakukan oleh partai Demokrat yang diinstruksikan oleh ketua umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk membantu rakyat di masa pandemik.

Inilah perubahan yang mau tidak mau harus dihadapi dan disikapi, karena hidup sangat dinamis maka harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, dengan demikian kualitas kehidupan terus meningkat lebih baik.

Namun belajar merdeka yang dimaksud hingga saat ini belum memberi makna yang kuat, karena lebih ke perubahan tehnis dari belajar tatap muka (offline) ke digital (online) belum memberi makna yang dalam bagi pelajar untuk membentuk karakter yang diharapkan yaitu mampu berpikir kritis agar terbentuk sebuah peradaban tinggi bagi bangsa Indonesia. Dimana dengan berpikir kritis setiap anak didik memiliki keingintahuan besar tentang berbagai hal untuk menambah pengetahuan dengan rajin membaca serta mengeksplorasi pikiran dengan cara banyak bertanya, dengan bertanya otomatis mengembangkan wawasan lebih luas dan mendapatkan jawaban dari rasa penasaran serta keingintahuan mereka yang akhirnya memunculkan banyak pilihan solusi bagi kebaikan hidup serta inovatif dan produktif.

Berpikir kritis itu berpikir filsafat, dengan berpikir filsafat akan menemukan kebenaran yang menghasilkan kebijaksanaan. Ciri belajar merdeka sejatinya inheren dengan berpikir kritis maka sumber daya manusia (SDM) Indonesia akan menjadi manusia yang mengedepankan rasa kemanusiaan dalam menjalankan setiap interaksi sosial berbangsa.

Bagaimana ini dapat terwujud? Tentu yang menjadi dasar untuk dapat dievaluasi adalah metode belajar yang diterapkan selama ini yang menghasilkan output SDM yang seringkali kurang bertanggung jawab dan sangat mudah melanggar etika moral serta aturan. Oleh karena itu perlu penekanan defenisi belajar merdeka yang dibutuhkan terlepas apapun dinamika yang dihadapi. Salah satu yang menjadi perhatian besar yaitu saat ujian, pelajar yang masih perlu menimba ilmu pengetahuan harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pihak sekolah dalam jumlah yang tidak sedikit akhirnya seringkali membuat pelajar bingung, bagaimana tidak para pelajar baru mengenal materi pelajaran kemudian diujikan dengan cara demikian akhirnya membuat pelajar tertekan dan stres.

Sejatinya dalam ujian justru pelajar yang membuat pertanyaan, dari kualitas pertanyaan itu dapat dinilai seorang pelajar apakah banyak membaca atau tidak, serta metode ini dapat meminimalisir perilaku buruk seperti menyontek, dan setiap pelajar diberi dorongan untuk mengembangkan kompetensinya masing-masing.

Kemudian para guru yang memiliki pengetahuan lebih terhadap materi yang diajarkan yang menjawab seluruh pertanyaan tersebut kemudian dikembalikan ke pelajar untuk dibaca menjadi tahu dan paham.

Metode ini akan menciptakan spirit berpikir kritis bagi setiap anak didik yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin canggih agar menjadi pribadi tangguh dan mandiri. Kata kunci dsini adalah penghargaan tertinggi diberikan kepada setiap pelajar sebagai user dari sistem pendidikan nasional untuk menghasilkan SDM yang siap menghadapi segala tantangan zaman dengan mengedepankan moralitas, taat aturan maka kehidupan semakin terkendali dan mampu bersaing dengan masyarakat bangsa lainnya di dunia.

Sejak SD sudah diterapkan metode belajar 50% dilakukan dengan permainan agar memberi keleluasaan bagi setiap pelajar untuk membentuk kepercayaan dirinya. Kemudian saat SMP dimulai menerapkan metode belajar tersebut hanya perlu membuat 10 pertanyaan dari setiap materi pelajaran dari situ dapat dibaca arah pikir dan semangat pelajar dalam memahami materi yang dipelajari. Begitu juga saat SMA, dengan mengajukan 15 pertanyaan setiap materi pelajaran saja dapat dinilai kualitas atau kompetensi seorang pelajar.

Saat masuk ke Perguruan Tinggi mereka sudah lebih siap menghadapi metode belajar mandiri, metode pendidikan demikian akan menambah semangat belajar karena tidak ada lagi tekanan yang membuat stres, setiap pelajar dapat mengembangkan potensi diri masing-masing dengan catatan setiap orangtua tidak mengabaikan anak-anak selama menjalani proses pendidikan, terus peduli turut serta memantau dan mendampingi dengan menanyakan apa yang menjadi kendala, apa yang disukai dan seterusnya otomatis terbangun hubungan yang baik antara orangtua dan anak. Jika setiap keluarga bisa seperti ini, tidak ada lagi persoalan bangsa yang mengkhawatirkan justru semakin yakin bahwa generasi bangsa selanjutnya akan semakin dapat diandalkan dan dipercaya.
Inilah sejatinya arti belajar merdeka agar ketertinggalan selama ini dapat dikejar mengingat kehidupan semakin modern ditandai dengan kemajuan teknologi di era Society 5.0 bahwa kehidupan manusia harus semakin humanis.

Secara garis besar belajar merdeka harus bisa menghasilkan kualitas SDM yang jauh lebih baik sebagai pribadi-pribadi kritis, dengan banyak bertanya akan memunculkan kebenaran yang menciptakan kebijaksanaan. Dengan terbiasa bertanya menjadikan habit dan orangtua maupun guru serta lingkungan harus mendukung metode ini serta mampu menjawab dengan baik jika anak-anak atau pelajar bertanya tentang macam hal agar mereka tidak mencari sendiri di internet secara liar dan tidak terkontrol dapat membahayakan masa depan mereka juga masa depan bangsa dan negara.
Belajar merdeka adalah urat nadi bagi kehidupan bangsa Indonesia.

***