Literasi

Mencuri Baca Buku Ayah| Dibawah Bendera Revolusi

Jumat, 7 Mei 2021, 06:55 WIB
Dibaca 293
Mencuri Baca Buku Ayah|  Dibawah Bendera Revolusi
Buku ayah yang nyaris jadi bahan layang-layang saya di masa kecil. Namun, saya curi baca.

Semula, ingin bikin layang-layang. Namun, keingintahuan tinggi mendorong saya mencuri baca buku tebal itu. Buku-buku ditumpuk di satu tempat.

Saya haikul yakin.

Ketika masa kecil. Waktu ingin tahu tak terbendung. Bukan hanya saya yang pernah "mencuri baca" buku ayah. Pasti ada di antara Pembaca juga. Beberapa kali berjumpa, dan berdiskusi dengan "para pencuri ilmu di bawah umur" itu, kami ngakak. Tertawa. Tipe orangnya serupa, tapi tak sama. Penggila baca. Bibliofili, ketika dewasa. Dan rata-rata sukses dalam hidup.

Awal tahun 1970-an.

Saya masih SD kelas kecil ketika itu. Baru bisa baca-tulis.

Bermula hobi layang-layang. Bikin sendiri. Bahannya dari mana? Saya lihat, banyak sekali tumpukan kertas ayah. Ia seorang pegawai sebuah kantor di ibukota kecamatan. Punya mesin ketik. Juru ketik juga. Banyak orang minta diketikkan dokumen. "Salinan", atau fotokopi ketika itu. Ayah ngetiknya 11 jari. Jika tinta pitanya kusam, bisa sampai tembus kertasnya. Atau pake karbon.

Menggunakan kertas penting untuk bikin layang-layang, ketahuan juga. Kulit perut saya pernah dicubit, sampai mau berdarah.Tapi tentang "mencuri membaca bukunya", ayah tak pernah menghukum. Malah pura-pura tidak tahu.

Suatu ketika. Saya kehabisan bahan layang-layang. Diam-diam, saya ambil saja kertas ayah. Tumpukan yang agak di bawah, agar tidak ketahuan. Nah, di situlah kemudian saya melihat ada yang lebih menarik. Yakni buku-buku tebal di sampingnya. Dalam hati: saya bisa bikin banyak layang-layang dari lembar-lembar buku itu nanti.

Namun, keingintahuan tinggi mendorong saya mencuri membaca buku tebal itu lebih dulu, sebelum dibikin layang-layang. Lem kertasnya dari dahan sagu yang dipotong-potong. Lengketnya mantap sekali!

Buku-buku ayah ditumpuk di satu tempat. Di ruang kerja, pojok ruang keluarga. Saya masih ingat. Tempatnya samping radio transistor, merek "Tjawang". Tempat biasa ayah bangun pagi, jam 05.00, mendengar siaran "Radio Australia, Suara Indonesia dari Melbourne". 

Sebelum niat untuk merobek mulai dari tengah-tengah buku yang dijahit benang itu, saya curi baca. Sangat menarik. Saya keterusan membaca. Lalu merasa sayang untuk merobeknya.

Buku itu berjudul: Dibawah Bendera Revolusi --mestinya: Di penulisannya dipisah (Di Bawah....). Tapi tak apa. Yang penting saya tahu, Bung Karno juga seorang penulis, selain orator ulung.

***

Banyak karikatur di buku itu. Sangat menarik. Topiknya sungguh suatu agitasi, agar merdeka. Merdeka. Merdeeekaaaa! Serta ajakan perlawanan rakyat semesta, melawan kolonial Belanda.

Nanti, setelah tahun 2001, saya baru mafhum. Sebagian besar kumpulan artikel "Bima" nama pena BK, waktu di Surabaya. Nama samaran, agar kompeni Belanda tidak tahu siapa.Namun toh, ketahuan juga! Pembelaan BK di pengadilan Bandung, Indonesia Menggugat, bukti sejarahnya.

Sebagai penulis, sang Bima, Bung Karno, diasuh HOS Tjokroaminoto.

Ya! BIMA, Nama Pena Bung Karno, sebagai Penulis
Beruntung, tahun 2001, memperingati seabad Bung Karno, saya ketua Tim Penerbitan bukunya untuk kelompok Penerbitan Gramedia. Bekerja sama dengan Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno, kami diberikan nyaris semua berkas berupa pidato lengkap Bung Karno, tulisan tangan, dan kliping artikel di koran yang memuat tulisan-tulisan hasil pemikirannya pra-kemerdekaan.

Buku yang kemudian terbit adalah:
1) Bung Karno: Gerakan Massa dan Mahasiswa
2) Bung Karno dan Wacana Islam
3) Bung Karno dan Tata Dunia Baru
4) Bung Karno dan Wacana Revolusi

Tidak semua berkas kami terbitkan. Sayang, saya tak menyimpan lagi berkas-berkas yang sebenarnya mahapenting itu.

Yang saya ingat. Dari membaca berkas-berkas itu adalah: Bung Karno sebagai penulis.

Sejak usia muda, saya telah berkenalan dengan seorang Penulis hebat.

Dan tentang mencuri baca buku ayah. Saya pernah tanya, "Apakah ayah tahu?"

"Tahu!" katanya. "Sengaja omang tidak marah. Kamu memang anak yang cerdik!"

Tentang perbuatan terlarang menggunakan kertas penting untuk bikin layang-layang, ketahuan juga. Kena hukum. Langsung eksekusi di tempat, sebab ketangkap tangan. Rupanya, aksi saya itu telah lama diincar. Kulit perut saya dicubit ayah. Lalu dipelintirnya. Perih rasanya. Saya meringis menahan. Hingga kulit perutku mau berdarah.

Tapi tentang "mencuri baca bukunya", ayah tak pernah menghukum. Malah pura-pura tidak tahu.

***