Literasi

Batu Ruyud Writing Camp | Prasasti Yupa, Jejak Literasi Moyang Kami (15)

Rabu, 3 Agustus 2022, 00:05 WIB
Dibaca 155
Batu Ruyud Writing Camp |  Prasasti Yupa, Jejak Literasi Moyang Kami  (15)
Saya di latar depan duplikat Prasasti Yupa, Museum Mulawarman.

Jika narasi sejarah. Yang urutan kandungan isinya berdasarkan urut-kacang dari sisi kronologi waktu. Maka tulisan ini bukan yang ke-15, melainkan yang pertama.

Suatu buku, bukan semata-mata urutan-waktu cara menentukan chapter-nya. Bisa juga berdasarkan tema. Atau: tematik.

Akan tetapi, tidak ada yang tidak bisa di tangan seorang penulis. Lihat bagaimana saya memulai tulisan yang mestinya ada di urutan pertama, tapi di tengah-tengah tempatnya. Bagai kisahan novel, suatu tulisan panjang bisa sorot-mundur. Atau flash-back.

***

Apakah literasi, yang kami terjuni dan hidupi hari ini, tiba-tiba saja datangnya? Tanpa adanya horizon masa lampau?

Tidak! Bukankah kita mengenal adanya dimensi-waktu: dahulu, kini, dan masa depan. Yang hari ini bisa menjadi masa lampau. Yang masa depan, adalah sekarang. Yang sekarang? Jujur saja, tidak ada "sekarang". Jika kita mengucapkan "detik ini", maka waktu telah berlalu sepersekian detik dari saat kata "sekarang" diucapkan. Tempus fugit [1]. Waktu itu berlari!

Sebagai seorang pegiat, sekaligus pekerja, literasi. Saya merasa wajib mengunjungi situs-situs bersejarah di Kalimantan. Bukan kenapa-kenapa. Kunjungan langsung ke lokus, akan membuka mata-hati kita. Untuk bisa "merasakan" suasana masa lampau, ketika peristiwa yang disebut "sejarah" itu terjadi.

Apakah yang menjadikan suatu peristiwa, atau perbuatan manusia, bernilai "sejarah"?

Pertanyaan itulah yang menggoda saya. Sedemikian rupa, sehingga beberapa kali (tidak puas hanya sekali), saya mengunjungi Museum Mulawarman, di Kutai, ini. Saya lalu mafhum: yang disebut sejarah itu ada suatu "loncatan peradaban." Di dalamnya, melibatkan suatu komunitas ke arah perubahan yang semakin beradab, bukan sekadar maju saja. Dan per-ADAB-an itu universal.

Demikianlah yang disejarahkan oleh prasasti Yupa. Dalam hati, saya bersyukur tiada henti.

Untung ada prasasti Yupa. Jika tidak. Selamanya kita tak pernah mafhum. Bahwa Borneo pernah berjaya sejak pengujung abad ke-4 Masehi, atau pertengahan alaf pertama.

Yupa secara harfiah berarti: tiang batu. Sesungguhnya, prasasti Yupa bukan cuma satu. Total jumlahnya ada 7 bongkah.  

Seluruh tujuh prasasti Yupa ditemukan di Kecamatan Muara Kaman[2]. Batu prasasti tidak ditemukan pada waktu bersamaan. Lebih dahulu ditemukan 4 buah prasasti pada tahun 1879. Sedangkan 3 lainnya, ditemukan pada tahun 1940-an.

Ditulis dalam aksara pallawa. Sedangkan bahasa yang digunakan adalah Sansekerta. Dari telaah paleografis yang dilakukan oleh Kern (1917), diketahui. Bahwa aksara yang digunakan untuk menulis prasasti Yupa ini mempunyai kesamaan dengan tipologis aksara Wengi di Kalingga dan aksara Cera di Merkara. Keduanya adalah wilayah yang terletak di India Selatan.

Nah, dari sinilah penetapan tarikh relatifnya prasasti Yupa itu. Yang ditengarai pada abad IV Masehi.

Ytprayeh.com. Adalah juga prasasti, seperti batu Yupa. Mengapa demikian? Pikirkan sendiri.

Untung ada prasasti Yupa. Prasasti Yupa I bertuliskan demikian:

srimatah sri-narendrasya; kundungasya
mahatmanah; putro svavarmmo vikhyatah;
vansakartta yathansuman; tasya putra
mahatmanah; trayas traya ivagnayah; tesan
trayanam pravarah; tapo-bala-damanvitah;
sri mulavarmma rajendro; yastva
bahusuvarnnakam; tasya yajnasya yupo
‘yam; dvijendrais samprakalpitah.

Terjemahan:
Sang Maharaja Kudungga, yang amat
mulia, mempunyai putra yang masyhur,
Sang Aswawarman namanya, yang
seperti Angsuman (dewa Matahari)
menumbuhkan keluarga yang sangatmulia.
Sang Aswawarman mempunyai putra tiga,
seperti api (yang suci).
Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah
Sang Mulawarman, raja yang berperadaban
baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman
telah mengadakan kenduri (selamatan yang
dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk
peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu
batu ini didirikan oleh para brahmana.

Untung, ada prasasti Yupa. Bukti sejarah tak-terbantah. Hal kecil, namun tercatat sepanjang segala abad. Kudungga ditengarai asli penduduk Borneo. Ia nenek moyang suku bangsa Dayak. Suatu bukti bahwa penduduk asli Borneo (Varuna dvipa dalam pustaka Hindu India), telah bisa dan mempunyai organisasi yang canggih, untuk mengatur perikehidupan bersosial dan bermasyarakat. Telah memiliki peradaban yang tinggi di zamannya.

Bisa jadi, para perancang prasasti Yupa ini berpikir jauh ke muka. Sebab setajam-tajamnya ingatan kolektif manusia, jauh lebih tajam tinta/ tulisan yang paling buram.

Tak ubahnya dengan para penggagas dan pendiri web kita ini: Ytprayeh.com. Adalah juga prasasti, seperti batu Yupa.

Mengabadikan, sekaligus menarasikan, Borneo hari ini. Yang, ribuan tahun ke muka, pasti amat sangat berharga!

Dengan usaha hermeneutika, orang-orang, ribuan tahun ke depan. Akan memahami Borneo, dan Indonesia, melalui jejak-digital yang tersaji dalam setiap menunya.
(bersambung)

Catatan akhir:
[1] Istilah "tempus fugit" ini muncul pada baris 284 dari buku 3 Virgil yang menggambarkan bahwa sang waktu (tempus) berlari terus, tidak dapat kembali, apalagi direproduksi. Terbit sekitar tahun 29 s.M., syair itu disebut sebagai bernuansa "alam pedesaan", puisi alam (nature poem). Dalam Inggris, Georgic. Yakni sebuah puisi atau buku yang berhubungan dengan pertanian atau topik pedesaan, yang biasanya mengagungkan pekerjaan di luar rumah dan kehidupan pedesaan yang sederhana. Seringkali berbentuk puisi didaktik atau instruktif yang dimaksudkan untuk memberikan instruksi yang berkaitan dengan keterampilan atau seni.

[2] Muara Kaman kini salah satu kecamatan yang berada di tengah Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Di masa lampau, wilayah ini adalah pusat pemerintahan kerajaan yang berlangsung sejak Kudungga dan diperbesar dan diperharum Mulawarman. Sejarah masa lampau masih meninggalkan jejaknya di sini, di mana terdapat sebongkah batu panjang besar berwarna hitam yang disebut penduduk setempat sebagai “Lesong Batu”, yang ditengarai sebagai bahan materi dahulu kala memahat atau membikin prasasti Yupa yang kini aslinya disimpan di Museum Nasional, Jakarta.