Literasi

Manusia Indonesia dalam Kaca Benggala Mochtar Lubis

Rabu, 28 September 2022, 16:34 WIB
Dibaca 100
Manusia Indonesia dalam Kaca Benggala Mochtar Lubis
Buku yang bikin muka merah itu.

Buruk rupa cermin dibelah -demikian pepatah. Dan memang buruk wajah kita ketika bercermin melalui buku legendaris, penuh kritik, namun lebih banyak menuai pujian ini.

Mochtar Lubis dalam ceramah pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki menggetarkan, sekaligus menampar muka kita sebagai bangsa. Betapa tidak! Secara jujur dan terbuka dipaparkannya apa yang selama ini ditutup-tutupi dan seakan tabu.

Baca juga di: https://bibliopedia.id/buku-dan-pengaruhnya-memahami-manusia-indonesia-nya-mochtar-lubis/?v=b718adec73e0

Disibaknya wajah manusia Indonesia yang terbalut kabut kepura-puraan. Topeng yang menutup wajah kita sebenarnya, ia buka. Kita benar-benar dihadapkan pada kaca benggala: inilah wajah kita, sebagai  bangsa sebagaimana dipaparkan dalam buku yang diterbitkan Idayu Press (1984) ini.

Bagi orang yang open minded dan positif. Dalam hati ia berkata, "Tega benar Si Lubis mengatakan kebenaran!"

Manusia Indonesia, oleh pria kelahiran Padang pada 7 Maret 1922 itu, dicirikan dalam 12 butir sebagai berikut.

1. Hipokritis (munafik). Umumnya, manusia Indonesia orang yang berpura-pura. Lain di bibir, lain di hati.
2. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. Jika kita percaya bahwa apa pun tidak lahir dari ruang hampa, barangkali pepatah “Lempar batu sembunyi tangan” ini lahir dari realitas sosial masyarakat Indonesia. Menggambarkan bahwa seseorang berani berbuat, tapi takut bertanggung jawab.
3. Bersikap dan berperilaku feodal. Ini warisan feodal dan kolonial. Mental yang diturunkan dari generasi ke generasi. Utamanya dipraktikkan birokrasi, tidak peduli birokrasi pemerintahan maupun swasta.
4. Percaya takhyul. Meski tingkat pendidikan rata-rata orang Indonesia mengalami kemajuan dari waktu ke waktu, tetap saja jika mengalami masalah dan dihimpit kesulitan hidup, orang Indonesia cenderung lari ke dukun. Hal yang berbau mistik dan takhyul, masih melekat kuat, belum benar-benar lekang dari alam bawah sadar umumnya orang Indonesia. Padahal, percaya takhyul dan dunia mistik adalah ciri manusia primitif.
5. Artistik, berbakat seni. Bisa jadi, yang paling menohok ke ciri manusia Indonesia ini ialah etnis Bali, Jawa, Dayak, dan Irian. Ukiran dan jiwa seni terpancar dalam arsitektur dan narasi kehidupan sehari-hari. Meski demikian, etnis lain pun memiliki ciri ini.
6. Lemah watak dan karakternya. Watak dan karakter suatu bangsa, tentu tidak dibangun dalam waktu sehari. Melainkan dibangun dalam rentang waktu lama, setelah mengalami proses internalisasi.
7. Tidak hemat. Orang Indonesia boros, rejeki hari ini, dihabiskan hari ini. Umumnya tidak gemar menabung dan memikirkan masa depan.
8. Cenderung tidak bekerja keras, jika tidak terpaksa. Hidup santai. Berprinsip: ada hari ada rejeki, ada hari ada nasi.
9. Tukang menggerutu, tidak berani menyatakan pikiran dan pendapat di depan orangnya. Menusuk di belakang. Ya di depan, tapi tidak di belakang.
10. Lekas iri dan dengki. Jika ada orang lain sukses, iri dan dengki. Gampang sirik.
11. Pura-pura pandai, tidak mau mengakui kekurangan/ keterbatasannya.
12. Mudah meniru. Ini menunjukkan orang Indonesia kurang kreatif dan inovatif. Mudah meniru, namun tidak mengakui bahwa itu temuan orang.

Waktu Mochtar Lubis pidato, usia Indonesia sebagai negara-bangsa baru 32 tahun. Akan tetapi, tak syak, buku itu dikutip di mana-mana. Menjadi salah satu buku babon, atau buku yang mempengaruhi. Dan bertahan hingga puluhan tahun lamanya. Kini pun, buku ini tetap relevan.

Jika ingin tahu sifat-sifat dasar manusia Indonesia. Maka buku ini menjelaskannya tuntas.