Literasi

Batu Ruyud Writing Camp | Dayak Indonesia (10)

Sabtu, 30 Juli 2022, 01:25 WIB
Dibaca 113
Batu Ruyud Writing Camp |  Dayak Indonesia  (10)
D-I. Relasi. Sekaligus, pars pro toto.

Di Rumah Tjilik Riwut Gallery & Resto. Di pojok Galeri Buku. Buku-buku karya Tjilik Riwut, tidak senantiasa ada. Sering kehabisan stok.

Namun, bagi Anda yang bermukin di dan tak-jauh dari Jakarta. Datanglah ke Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan No.11.

Di Lantai 12 dan 14, tersedia "buku langka". Di sanalah, saya biasa tenggelam. Berjam jam. Bahkan, sampai lupa hari telah tergelincir di ujung senja. Pengeras suara tiba-tiba mengumumkan: sebentar lagi layanan perpustakaan akan tutup. Artinya, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00.

Entah Anda? Saya tidak pernah merasa puas. Sekaligus tidak merasa bangga jika tidak membaca langsung dan memegang pustaka, sumber primernya. Tidak merasa aman dan nyaman, sebagai peneliti dan penulis, jika (harus) menggunakan atau merefer sumber bukan-primer. Tak asi!

Maka di Gudang Ilmu yang saya kagumi itu. Betapa Negara sungguh memanjakan warganya berliterasi. Hawa sejuk ber-AC. Bersih. Nyaman. Bisa duduk di lantai. Meski kursi baca, sekalian untuk kerja, juga tersedia. Tinggal mana suka?

Di Perpustakaan Nasional itu. Saya jadi mafhum bahwa Pemimpin besar. Seperti Bung Karno. Dikenal bukan saja karena piawai orasi, melainkan juga karena terampil menulis.

Tidak banyak orang mafhum. Bung Karno sejak siswa sudah terampil menulis.

Pada usia remaja, ketika siswa Hogere Burger School (HBS), sudah bisa hidup dari menulis. Dari jasa menulis, ia membayar biaya indekos di Surabaya dan bisa membeli buku.

Dengan banyak membaca, Bung Karno jadi dheng dengan banyak ragam gaya dan bentuk-bentuk tulisan. Ia pun paham bagaimana menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

Ratusan artikel dihasilkannya, dimuat dalam majalah asuhan HOS Cokroaminoto, "Oetoesan Hindia". Dengan alasan keamanan, karena bersekolah di sekolah Belanda, Bung Karno menggunakan nama samaran: Bima. Nama pena ini sengaja untuk menghindari intimidasi dan pembungkaman pihak kompeni.

Jadi, buku Di Bawah Bendera Revolusi yang menggemparkan itu misalnya, bukan tiba-tiba ada begitu saja. Sang proklamator RI jauh sebelumnya telah mengasah keterampilan menulis. Dan Bung Karno sebagai penulis ini, hanya segelintir orang tahu.

Sebagai sahabat, kawan-rapat Bung Karno. Agaknya, Tjilik Riwut menggenapi adagium ini. “Kamu akan menjadi seperti siapa kamu bergaul.”

Maka Bung Karno Kecil ini menggelegar. Bukan hanya di Borneo, melainkan juga pada aras nasional. Jalan pahlawan telah dijalaninya, rupanya, sejak belia. 

Demikianlah jejak-literasi itu, masih membara hingga detik ini. Pekerja-kata, atau yang mengaku penulis-Dayak, belum sah jika belum menjejakkan kaki di tempat ini. Bukan hanya membaca pustaka primer, melainkan juga: menangkap suasana jiwa. Spirit literasi yang ditebar dan menyalakan semangat kecendekiawanannya yang tak pernah mati.

Apa yang diucapkan berlalu, tapi yang tertulis abadi. Tjilik Riwut abadi karena tulisan-tulisannya.

Angin mengembus dingin menjelang malam. Di bilangan Jalan Sudirman, kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Di belok jalan sedikit pojok. Terbaca plang yang dibenderang lampu taman warna warni: Rumah Tjilik Riwut Gallery & Resto.

Pada sebuah ruang, berdinding putih. Tergantung foto-foto tua. Dibingkai kaca yang bening, semua gambar berkisah tentang sejarah masa lalu.

Ketika bumi pendahara masihlah belantara. Dan Tjilik Riwut membangun kota di atas pasir. Pahandut yang semula cikal bakal Palangka Raya, kini nyaris sepi ditinggalkan. Pusat kota ada seputar lingkar kantor Gubernur, kilometer 00 sebagai pusat kota.

Malam itu, 10/2-2017. Saya bersama Wilson, Suriansyah, dan Yunitha Elle duduk di kursi kayu yang bermeja kayu juga. Terkesan orisinal warna alami.

Sembari menikmati kuliner setempat, ikan baong dan patin bakar, ditingkah suara merdu penyanyi kafe dan iringan musik, tergeletak begitu saja buku-buku di sana. Sebagian besar karya Tjilik Riwut, meski ada beberapa karya orang lain. Tapi semua buku di galeri cilik itu bertema Dayak.

Tak syak, menyebut Tjilik berlatenta banyak. Sebagai pahlawan nasional dan gubernur Kalteng, banyak orang tahu. Tapi hanya segelintir yang mafhum ia penulis buku dan wartawan.

Riwut pernah menjadi seorang anggota KNIP (1946 – 1949).Setelah perang, Riwut merintis karier di bidang politik. Pada 1950, Riwut menjadi Wedana di Sampit, Kalimantan Tengah. 

Dia kemudian menjadi Bupati Kotawaringin Timur 1951- 1956 sebagai Bupati Kepala Daerah Swatantra Tk. II Kotawaringin Timur. Riwut kerap mengemban beberapa tugas jabatan berbeda dalam rentang waktu yang sama. Misalnya, 1957, resident kantor persiapan/pembentukan daerah swatantra TK 1 Kalimantan Tengah di Banjarmasin.

Pada 1958, ayah 5 anak ini menjadi residen pada pemerintahan swatantra Tingkat 1 Kalimantan Tengah.

Pada 1958- 1959 menjadi Penguasa/ Pemangku Jabatan Gubernur Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Tengah. Pada 1957-1959 Riwut juga Anggota Dewan Nasional RI. 

Selanjutnya, menjadi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Kalimantan Tengah pertama pada 1959-1967.

Kontribusinya bagi pembangunan nasional dan Kalimantan Tengah pada khususnya tidak diragukan lagi. Riwut memimpin, mendirikan, dan membangun hutan di sekitar Desa Pahandut menjadi Kota Palangkaraya, Ibukota Kalimantan Tengah. Riwut tutup usia pada 17 Agustus 1987. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya.

Hal yang patut kita kenang dari Tjilik Riwut adalah seperti salah satu karya legasinya. Yang mengulas, kemudian menempatkan Dayak dalam konteks Indonesia. Bahwa jika seseorang kental kedayakannya, tebal pula keindonesiaannya.

Buku ini, mengingatkan saya pada salah satu buku yang pernah saya baca. Karya Dr. Mahathir Muhammad. Yaitu: The Malay Dilemma. Suatu pustaka sarat makna. Yang mengupas bagaimana posisi etnik Melayu di Malaysia.

Di buku ini. Mahathir  melempar tanya, separuh menggugat: Apakah jika seseorang, termasuk dirinya, memperjuangkan hak-hak puak Melayu di Malaysia dan mengangkat derajat mereka, sesuatu yang berlebihan? Bahkan bertentangan dengan asas berbangsa dan bernegara?

Tak ubahnya karya Tjilik Riwut ini. Yang membahas posisi, sekaligus relasi, Dayak dan Indonesia.

Api literasi yang dimulai, dan yang dipantik Tjilik Riwut. Bagai obor olimpiade yang jangan hanya diam di tempat. Tapi senantiasa kita bawa estafet.  Dari generasi ke generasi.

(bersambung)