Literasi

Demokrasi di Negeri Gemah Ripah

Senin, 6 September 2021, 21:49 WIB
Dibaca 107
Demokrasi di Negeri Gemah Ripah
Ilustrasi demokrasi (Foto: Barnas.co)

Dalam imajinasi saya sebagai seorang warga negara Indonesia (WNI) yang taat dan patuh aturan agar kehidupan lebih tertib, saya melihat tidak ada masalah krusial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Ketersediaan sumber daya alam untuk mendukung kehidupan bangsanya di alam nan tropis sudah lebih dari cukup.

Hal ini berbeda jika ketersediaan sumber daya alam kurang, tidak cukup atau bahkan tidak ada. Jadi hanya tinggal mengatur bagaimana agar bisa sama dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Inilah tujuan dari dibentuknya negara dan pemerintahan yang berfungsi mengelola dan mengatur semua sumber daya dengan baik secara berkelanjutan. Sudah lebih sederhana, tidak harus mencari-cari lagi sumber daya alam yang akan diolah untuk menghasilkan sebuah produk.

Dengan sistem politik demokrasi, harapannya lebih terbuka komunikasi antar sesama anak bangsa bagaimana membangun negri dengan mengutamakan kesejahteraan hidup bagi seluruh rakyat. Setiap orang memiliki hak sama di ruang demokrasi dalam menyampaikan aspirasinya tercermin saat pemilu untuk memilih pemimpin yang dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Namun disayangkan, nyatanya hampir dua puluh tahun Indonesia menjalankan sistem politik demokrasi belum memberikan harapan yang diinginkan. Apakah disebabkan pengaruh euforia yang masih tinggi dari setiap individu atas kebebasan berpendapatnya ataukah memang tidak bisa mengendalikan diri/ego karena belum paham bagaimana menjalankan politik demokrasi yang baik dan benar. Terkesan berfokus pada hal-hal tehnis karena ingin mendapatkan kekuasaan, tahta dan harta. Tapi bukan pada tujuan fundamental bagaimana bisa hidup bersama sejahtera, damai dan harmoni.

Akhirnya semakin ricuh sehingga sulit mengurai akar persoalan yang muncul berdampak sulit ke sektor-sektor lainnya. Terus saling menyalahkan, dengan memaksakan kehendaknya kepada orang lain seolah ia yang paling benar, sejatinya bisa saling menghormati dan menghargai dengan cara mendengarkan setiap pendapat, sehingga ruang demokrasi sebagai ajang diskusi plus menjalin silahturahim bagi sesama anak bangsa.

Jika ada yang kurang tepat pada sebuah kebijakan dapat dikoreksi bersama dan disampaikan dengan cara bertanggung jawab.

Pola demikian akan memudahkan para pemimpin menjalankan amanah rakyat dengan efektif. Peradaban sebuah bangsa dapat terlihat bagaimana bangsa itu dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul dengan cepat.

Jika berlarut-larut dalam masalah, bisa jadi bangsa Indonesia dianggap sebagai bangsa lemah karena memang tidak ada masalah yang menjadi persoalan berat, apalagi jika melihat begitu besar negara dan bangsanya serta memiliki kekayaan biodiversity dan etnik.

Dapat juga dibaca sebagai bangsa yang tidak pandai bersyukur, hidup di negara gemah ripah tapi lemah kemauan untuk menciptakan kehidupan sejahtera dan bermartabat.

Sikap perilaku yang selalu ingin berada dekat dengan kekuasaan sejatinya dihindari, jika terus bergantung pada kekuasaan akan semakin tidak pernah bisa mandiri.

Dalam hal ini juga pemerintah sebagai pemilik tanggung jawab terbesar bisa mengelaborasikan dan mengkolaborasikan semua kekuatan nasional untuk segera keluar dari persoalan klasik yang membelit.

Maka saat muncul gangguan tidak terlalu berdampak buruk karena semua sudah terbangun kokoh dan stabil serta sulit ditembus oleh ancaman baik dari luar maupun dalam negeri dan budaya kerja yang buruk yang sering terjadi serta tumpang tindih pada kinerja pemerintah juga dapat dihindari.

Pembangunan nasional yang diharapkan dari sistem politik demokrasi menjadi lebih cepat terealisasi karena sudah lebih terbuka apalagi didukung oleh kemajuan teknologi digital saat ini.

Jika sepakat untuk jujur, setiap individu berkomitmen untuk mengesampingkan kepentingan pribadi dan kelompok maka tidak ada lagi masyarakat yang sangat kaya dan masyarakat yang sangat miskin, jika pun ada yang sangat kaya setidaknya kelompok masyarakat miskin itu kecil jumlahnya hanya dikarenakan kemalasan individu tapi bukan akibat dampak dari pengaturan/pengelolaan negara yang tidak tepat.

Saatnya bangsa Indonesia bisa hidup di alam surgawi dikawal dengan sikap akhlak yang tinggi, maka kehidupan seluruh anak bangsa dapat sejahtera walau ekonomi tidak harus selalu tinggi.

Dengan menjalankan sistem demokrasi yang sehat akan lebih mudah mewujudkan kehidupan lebih nyaman di negeri sendiri. Terciptanya kondisi aman damai memunculkan ketenangan, lebih bisa fokus untuk termotivasi dan bangkit dalam kreativitas secara mandiri, lebih sempurna jika pemerintah juga memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk berkarya. Pola yang baik dan kuat ini dapat sebagai model bagi keberlanjutan hidup dengan kendali baik.

Terbaik, sadar sebagai WNI dapat menyiapkan diri secara fisik dan mental bahwa hidup dalam sebuah negara yang beragam, justru banyak memberikan pilihan solusi yang bisa dieksplorasi. Saling menginspirasi, mencerahkan, memotivasi adalah kata kunci hidup dalam ruang nasional berbangsa.

Mari kita jaga Indonesia dengan berfokus pada upaya membangun negeri secara tulus, maka kehidupan antar masyarakat menjadi lebih kuat ikatan batinnya sebagai saudara sebangsa, karena setiap yang beridentitas WNI berarti satu. Ini sebagai modal dasar kuat dalam menjalankan sistem politik demokrasi untuk mewujudkan tujuan mulia yaitu mensejahterakan kehidupan bangsa Indonesia seperti warga bangsa di negara maju lainnya. Sejatinya rakyat Indonesia bisa hidup lebih makmur daripada rakyat di negara maju karena sumber daya alamnya memberikan apapun yang kita mau.

***

Tags : literasi