Literasi

Batu Ruyud Writing Camp | Melayu di Malaysia, Dayak di Indonesia (11)

Sabtu, 30 Juli 2022, 08:03 WIB
Dibaca 155
Batu Ruyud Writing Camp |  Melayu di Malaysia, Dayak di Indonesia  (11)
Dilema Melayu dan dilema Dayak.

Tahun 1970. Tepat 11 tahun sejak dibaiat menjadi menteri yang diperdana di Malaysia. Mahathir Mohamad menerbitkan buku kontroversial, The Malay Dilemma.

Isi buku tersebut sebagai berikut.
1. Introduction
2. What Went Wrong?
3. The Influence of Heredity and Environment on the Malay Race
4. The Malay Economic Dilemma
5. The Meaning of Racial Equality
6. The Bases of National Unity
7. Rehabilitation of the Malays and the Malay Dilemma
8. The Malay Problem
9. Code of Ethics and Value Systems of the Malays
10. Communal Politics and Parties
11. Malaysia and Singapore

Puluhan tahun lalu. Tjilik Riwut telah menujumkan: Bahwa Dayak akan menjadi titik. Sentral Kalimantan. Bahkan, pusat perhatian keindonesiaan, dan dunia.

Apa yang hendak dikatakan, dengan Dilema Melayu di Malaysia?

Tak ada maksud lain. Kecuali hanya ingin menegaskan. Sekali lagi. Lagi lagi sekali lagi. Bahwa pemikiran, yang diikat secara bulat dalam literasi seperti buku, luar biasa dahsyat dampaknya. Ia bergerak perlahan, mula-mulanya, seperti semut. Namun, pada akhirnya, ketika pemikiran itu menyebar, akan berpusar bagaikan angin di padang gurun. Solid melingkar.  Berputar-putar. Tanpa ada kekuatan luar bisa menghentikan gerak langkahnya hendak mengarah ke mana?

Demikianlah Tjilik Riwut. Kita patut menyebutnya sebagai literer. Pelopor literasi Dayak yang berpengaruh. Sosok yang meletakkan dasar literasi Dayak. Seorang yang menginspirasi, sekaligus memotivasi generasi literasi selanjutnya.

Pemikiran, juga kegelisahan, Tjilik Riwut tentang Kalimantan tertuang dalam dua buku yang telah kita bahas sekilas pada narasi yang lalu: Dayak dan Indonesia dan Kalimantan Membangun.

Orang cerdik cendikia menyebut kemampuan seseorang, yang tidak-biasa, memprediksi masa depan sebagai: futurolog. Seorang yang langka. Punya visi melihat apa yang bakal terjadi puluhan, bahkan berabad kemudian.

McLuhan salah satunya. Kemudian, yang sangat masyhur, adalah: Naisbitt.

Di ranah kita, Indonesia? Anda bisa cari sendiri, siapa? Saya hanya sebut di ranah Dayak saja. Salah satu, yang luar-biasa: Tjilik Riwut.

Dilema Dayak Indonesia adalah: antara menyerahkan tanah pusaka warisan leluhur, ataukah tenggelam dalam arus perubahan sentral-Indonesia?

Puluhan tahun lalu. Tjilik Riwut telah menujumkan: Bahwa Dayak akan menjadi titik. Sentral Kalimantan. Bahkan, pusat perhatian Keindonesiaan, dan juga: dunia.

Di Paser Penajam, Kalimantan Timur. Pada 2021. Ramalan relasi dan dilema Dayak-Indonesia itu terbukti benar adanya!

Dipetik dari kata Yunani, dilema telah diguna istilahnya sejak permulaan abad ke-16. Suatu istilah untuk menggambarkan bentuk argumen yang melibatkan pilihan antara alternatif yang sama-sama tidak menguntungkan. Aslinya bahasa Yunani dilēmma, dari di- (dua kali) + lēmma (premis).

JIka diindonesiakan, dilema adalah: buah simalakama. Tapi, istilah ini, terasa kuran keren dan intelek. Meski sama maknanya, yakni: kanan kiri racun semua. Tak ada madu. Jadi, beda sama sekali dengan: minus malum.

Apakah yang menjadi “dilema” Dayak di Indonesia? Riwut menyebut: tanah Dayak akan jadi silang sengketa. Karena itu, ia menulis buku lanjutan: Kalimantan Memanggil (Penerbit Endang, Djakarta, 1958.  Tebal: 404 halaman. Ukuran buku: 15 x 22,5 cm).

Dilema Dayak Indonesia adalah: antara menyerahkan tanah pusaka warisan leluhur, ataukah tenggelam dalam arus perubahan sentral-Indonesia?

Agar kita. Siapa saja. Dipanggil berbuat, meski kecil, sesuai vak dan talenta kita.

Literasi salah satunya. Dampak langsungnya tidak nyata. Tapi lihatlah buku Mahathir yang mengguncang. Sekaligus mengubah arah Malaysia.

Dalam hal ini, tepat dikatakan David Shenk. “Books are the opposite of television: They are slow, engaging, inspiring, intellect-rousing, and creativity-spurring”.

Buku dan literasi. Begitulah cara kerjanya!

(bersambung)