Literasi

Jalan Sunyi Menuju Sekolah Alam

Sabtu, 10 September 2022, 20:10 WIB
Dibaca 72
Jalan Sunyi Menuju Sekolah Alam
Pelatihan di Aula Dekopinwil Pontianak

Sejak kecil saya dilatih oleh orang tua agar senantiasa bekerja keras dan hidup mandiri,selain itu orang tua juga mengajarkan  tindakan-tindakan sederhana seperti merawat taman di halaman rumah,berkebun,berternak,bersih-bersih lingkungan. Ayah merupakan sosok guru yang baik serta maha pengasih dan penyayang,terbukti ayah mampu mendidik dan membimbing kami agar tetap berprestasi di sekolah,sedangkan ibu mendidik kami harus giat bekerja.Peran keluarga dan sekolah menjadi penentu bagi saya dalam melangkah. Tahun 2007 saya mengenal komunitas WALHI ( Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ) dan ikut serta dalam mengangkat isu seputar lingkungan hidup. Hal itulah yang memotivasi saya agar senantiasa mencintai lingkungan hidup. Mencintai alam semesta adalah filosofiku.Kemudian tahun 2008 saya diberi kepercayaan oleh saudara saya magang di dunia politik tepatnya di Sekretariat DPD-MPR RI Senayan. Selama 1 tahun magang sambil menempuh pendidikan di Fakultas Teknologi Informasi Jakarta. Banyak suka duka yang saya dapatkan terutama pengalaman bagaimana kerasnya kehidupan dunia politik beserta lingkungan yang jauh berbeda dengan kampung halamanku.Selama magang saya selalu mengamati hiruk pikuk dunia perpolitikan dan kehancuran lingkungan hidup yang ada di Ibukota Negara Indonesia. Saat pagi hari saya berkecimpung di dunia politik,sore hari saya langsung menuju  kampus. Untuk menuju kampus biasanya saya menggunakan bus satu ke bis yang lainnya.Terkadang tidak mendapatkan tempat duduk. Selama perjalanan saya sering terganggu dengan pemandangan anak-anak di lampu merah dan para pengemis yang turun naik bis yang saya tumpangi.Dalam hati saya,saya selalu berpikir betapa kerasnya kehidupan anak-anak jalanan di ibukota Jakarta. Ada perasaan sedih yang mendalam,ketika menemukan masih banyaknya orang yang miskin di negeri ini. Belum lagi bencana banjir,kemacetan di mana-mana yang melanda Ibukota.

Ada luka yang mendalam ketika berada di Ibukota Negara dengan tata kelola pemerintahan,terutama kesemrawutan dan hancurnya lingkungan di Ibukota Jakarta kala itu.Walaupun kini, sebagai seorang pendidik di SMA Santo Paulus Pontianak, saya tetap ingin menjadi aktivis lingkungan hidup. Saya telah bergabung dalam komunitas Lindungi Hutan Kalimantan Barat. Saya sangat bersyukur bisa bergabung dalam komunitas Lindungi Hutan bisa berkampanye mengajak semua orang untuk merawat bumi yang telah hancur. Jika semua warga bumi ini, bersama-sama menyadari pentingnya bumi sebagai tempat manusia dan makhluk ciptaan lainnya hidup dan berkembang,maka tidak ada alasan lagi anak-anak manusia  untuk dengan mudah merusak bumi dengan membuang sampah sembarangan,menebang hutan,mengeruk perut bumi dengan tambang, mencemari udara dengan zat-zat kimia yang mematikan.

Sebagai pendidik yang punya pengalaman melewati kerasnya kehidupan di Ibukota Negara inilah yang membuat saya harus menjadi penggerak sekaligus aktivis lingkungan hidup,saya ingin terus mengajak semua masyarakat untuk menyadari realitas krisis lingkungan hidup yang terjadi pada rumah bersama ini. Umat manusia di manapun mesti sadar bahwa perlu melakukan upaya-upaya pemulihan luka yang dialami bumi.Umat manusia di manapun berada mesti saling mengingatkan,terlebih para pemimpin dunia,para investor dan seluruh warga dunia untuk memikirkan secara bersama-sama gerakan pendidikan pelestarian lingkungan hidup.Bukan hanya slogan tetapi sungguh-sungguh tulus ikhlas tanpa paksaan,namun mesti berangkat dari nilai moral iman akan Sang Pencipta,bahwa merawat bumi berarti merawat karya sang Pencipta Alam. Dengan demikian semuanya memiliki tanggungjawab untuk merawat dan mencintai bumi sebagai rumah kita.

Nach..untuk menjadi pendidik di lingkungan sekolah tidaklah cukup maka perlu karya dan panduan untuk meraih mimpi dan cita-cita tersebut.  Sehingga saya memutuskan untuk ikut Forum Indonesia Menulis yang dilaksanakan pada hari setiap Sabtu, pukul 07.00-selesai di Aula Dekopin Jl.Sutoyo Pontianak kala itu. Saya memberanikan diri mendaftar di Forum Indonesia Menulis agar semangat mendidik sesama sekalian mencintai alam bisa diikuti siswa ,masyarakat, pelayan rakyat, aktivis dan generasi muda penerus perjuangan bangsa.

Biarpun harus mengeluarkan biaya pribadi untuk mengikuti kelas menulis di Forum Indonesia Menulis( FIM), saya terus melangkah dengan pasti mengikuti kegiatan setiap hari minggu pukul 07.00-12.00 Wib. Tekad untuk memiliki buku autobiografi begitu kuat sehingga apapun yang terjadi saya berjuang untuk menyelesaikan naskah sampai akhir. Pada tanggal 15 Februari 2020 buku autobiografiku akhirnya berhasil dilaunching di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak beserta guru-guru lainnya. Senang rasanya bisa memegang dan memeluk buku autobiografi ku sendiri. Kini cita-cita sebagai penulis bisa terwujud, saya juga selalu mendukung Gerakan literasi yang dibuat oleh Forum Indonesia Menulis. Buku yang saya buat berisi kumpulan perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang ini. Dilengkapi foto yang menarik dan inspiratif.

Buku yang saya tulis menawarkan sebuah pemahaman yang menawan agar kita mau belajar terus menerus dalam setiap kehidupan kita bahkan ketika kita mengalami kesulitan dan kegagalan.Kita juga harus sadar bahwa perlu menerapkan hidup sehat sehari-hari. Kita harus saling mengingatkan, satu sama lain terlebih para pemimpin dunia,para investor dan seluruh warga dunia untuk memikirkan secara bersama-sama gerakan pendidikan pelestarian lingkungan hidup.Bukan hanya slogan tetapi sungguh-sungguh tulus ikhlas tanpa paksaan,namun mesti berangkat dari nilai moral iman akan Sang Pencipta,bahwa merawat bumi berarti merawat karya sang Pencipta Alam. Dengan demikian semuanya memiliki tanggung jawab untuk menjadi penggerak,penggalang dan pendukung kegiatan melestarikan lingkungan hidup yang ada di Indonesia.