Literasi

Makan Buku | Buku dan Usia Sang Penulisnya (1)

Minggu, 25 September 2022, 09:18 WIB
Dibaca 421
Makan Buku | Buku dan Usia Sang Penulisnya  (1)
Makan buku: dalam makna simbolik.

Buku-buku bagus bermutu itu tergerai rapi di rak-rak. Sesuka hati. Kita bebas membaca terlebih dahulu sebab terbuka untuk diteliti dan disimak sebelum memutuskan untuk membelinya.

Di sanalah biasanya saya. Sebelum masuk, dengan memperhitungkan waktu, ke ruang tunggu pesawat untuk sembari mengisi waktu juga menambah ilmu. Membaca, dan memilih buku yang sesuai untuk dibeli. Tentu saja, tidak bisa banyak, sebab maklum saja sudah buku ori terbitan luar negeri. Yang dipajang di space pandora berkalas international pula!

Sejak bisa membeli buku sendiri, dengan uang saku, pada 1987. Kini koleksi buku saya di perpustakaan pribadi tidak kurang dari: 4.000 buku.

“Books give us wings”. Buku memberi kita sayap untuk terbang. Begitu semboyan yang kerap kita dengar. Hal itu benar. Saya amini tanpa reserve.

Telah cukup banyak koleksi buku ori dan asing saya yang didapat di gerai toko Bandara Terminal 3 Soekarno-Hatta. Sudah tentu, ia disimpan dalam lemari buku istimewa. Yang ada kacanya. Sebutir debu pun tak saya biarkan menempel padanya. Lelaku pada buku seperti ini, mungkin aneh bagi banyak orang. Tapi bagi saya, tidak! Saya amat sayang pada buku. Dan memeliharanya bagaikan biji mata.

Sejak bisa membeli buku sendiri, dengan uang saku, pada 1987. Kini koleksi buku saya di perpustakaan pribadi tidak kurang dari: 4.000 buku.Beberapa buku, spesial, saya tandai. Tidak akan, dan tidak boleh, bergeser dari tempatnya. Atau tidak akan dipinjamkan. Dan saya memang agak pelit dalam hal buku. Tidak meminjamkannya kepada siapa pun.

Sebagian buku koleksi saya adalah buku mata kuliah, yang ditulis dosen semasa saya kuliah. Kadang saya mengambilnya lagi untuk mendalami dan memperkaya topik. 

Ada buku Dr. Parera (belum Profesor ketika itu) tentang Eksegese. Yang ketika kuliah S-2 sangat berguna bagi saya memahami Hermeneutika dan “sensus plenior” sebuah teks. Ada buku Drs. Hendropuspito terkait sosiologi agama. Ada karya Dr. Piet Go terkait topik moral, seksualitas, dan perkawinan.

Semua itu saya simpan. Saya mengagumi mereka. Terutama sebagai penulis. Yang, sedemikian rupa, punya kemampuan untuk mengabadikan dan menurunkan ilmu kepada murid-muridnya dalam kitab. Tepat di sini tamsil, “Buku mengikat ilmu!”

Kandungan isi buku tidak pernah basi. Hanya contoh kasus berbeda. Hal itu tidak jadi masalah. Sebab kata intelektual dan penulis Amerika, Ralph Waldo Emerson, “Books are for nothing but to INSPIRE!”

Jadi, yang penting sebuah buku itu: menginspirasi. Hanya itu. Cuma itu saja! Cukup satu gagasan saja. General statement. Tesis. Selebihnya, sang Pembaca bisa mengembangkan dan meneruskan topiknya.

Pengalaman bagaimana para dosen saya ketika S-1, saya turunkan kepada mahasiswa. “Simpanlah buku ini. Mungkin Anda, seperti saya dulu juga, belum memahaminya saat ini. Tapi suatu ketika, kelak kemudian hari. Anda pasti memerlukannya. Pada saat itulah, Anda akan paham. O… itu maksudnya. Setelah Anda mengalami. Kadang buku (hanya) mengafirmasi apa yang Anda lakukan”

Pengalaman saya, terhadap buku dan materi kuliah, saya terapkan pada mahasiswa. Tidak mungkin otak mereka, yang kecil, masuk semua bahan ajaran dosen. Sedikit saja yang mereka mengerti. Tapi lebih banyak yang belum dipahami. Yang belum dipahami itu, tersimpan dalam otak buku. Itu sebabnya, saya tidak pernah memberi mahasiswa nilai D. Sebab mereka berproses. Belum selesai.

Terkait buku. Ia mengikat ilmu. Dan kebiasaan saya memperlakukan buku, kemudian hari saya mafhum. Namanya: Bibiofilia. Seorang yang cinta (akan) buku. Dari kata biblos (kitab). Dan filia  (cinta).

Saking cinta pada buku. Jika ada sedikit uang, saya membeli buku. Jika ada cukup uang, baru saya membeli baju.

Justru di tahun krisis moneter pada 1998, saya pernah membeli buku seharga 4 ribu US$. Saat itu, terasa sekali. Namun, saya haikul yakin, itu investasi. Nyatalah kemudian hari, buku itu selain saya resensi, juga dijadikan patok-duga menulis buku baru dalam alam konten suasana Indonesia. Salah satunya: 1101 Bussinesses You Can Start from Home. Saya kreasikan judul buku saya: 101 Writing Businesses You Can Start from Home.

Demikianlah kisah perjalanan. Hingga tahun 2005, saya memutuskan berhenti menulis artikel opini pendek pendek di koran. Telah 4.000 dimuat berbagai media regional, nasional, dan internasional. Saya tidak akan menulis opini pendek, jika tidak diminta khusus Redaksi.

Maka saya total terjun ke menulis buku. Makan (dari) buku. Tahun 2005 itu, saya masih 14 karya buku. Saya bernazar, “Suatu waktu. Kelak di kemudian hari. Jumlah bukuku harus melebihi bilangan usiaku!”

Kini usia saya pas kepala 6. Buku yang saya tulis dan publikasi berbilang angka "baru" 136. Saya bernafsu sekurang-kurangnya menulis dan merilis 500 buku. Kini di Google Book, Live in nyaris 100 buku yang dapat diakses di jaringan toko buku virtual. Saya tidak mereken buku yang saya edit. Hanya sebagai penulis solo saja.

Sejak 2013. Saya memutuskan pensiun dini dari kantor tempat saya bekerja selama 20 tahun. Hanya mengandalkan hidup dari menulis (buku). Bisakah saya?

Baiklah kiranya rahasia itu kita simpan dulu. Untuk jadi bahan tulisan yang berikutnya. (bersambung)