Filosofi

Bukan tentang Agama, Ras, Warna seseorang, tapi Kepribadiannya

Senin, 1 Februari 2021, 07:16 WIB
Dibaca 356
Bukan tentang Agama, Ras, Warna seseorang, tapi Kepribadiannya
Ilustrasi media sosial (Foto: inews.id)

Sebagai salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang lahir, tumbuh dan berkembang di tanah, air, bumi Indonesia sejak kecil telah dikenalkan mengenai sejarah Indonesia. Bagaimana jauh sebelum kemerdekaan, tanah Nusantara dihuni oleh masyarakat dalam bentuk kerajaan-kerajaan, hingga masuknya manusia modern ke daratan nusantara puluhan ribu tahun lalu seperti penjajah asing dari Barat, bangsa Cina, bangsa Arab, bangsa India dan dari negara-negara kawasan Asia Tenggara.

Keberagaman itulah yang mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia sejak diproklamirkan kemerdekaan Indonesia oleh para pendiri bangsa, sebagai kekayaan adat budaya yang menjadi dasar bagi masyarakat dalam menjalankan interaksi sosial. Setelah 75 tahun Indonesia merdeka, saat ini sistem politik demokrasi yang digunakan dimana setiap WNI memiliki hak yang sama di ruang publik dalam menyampaikan pendapatnya secara bebas namun bertanggung jawab, karena ada hak orang lain yang sama dan harus dihormati.

Baca Juga: Menggugat Peran Media Massa dalam Persatukan Bangsa

Saat kompetisi pemilihan gubernur DKI tahun 2017 lalu, yang akhirnya dimenangkan oleh Anies Baswedan yang memiliki keturunan bangsa Arab, dengan rivalnya Agus Harimurti Yudhoyono memiliki keturunan suku Jawa dan Basuki Tjahya Purnama memiliki keturunan bangsa China, ketiganya adalah putra bangsa yang memiliki hak sama di ruang demokrasi. Artinya bahwa kebhinekaan itu sebagai warna pelangi yang indah dan dapat memberikan pengaruh sangat positif bagi kehidupan, terbukti masyarakat secara aktif turut serta dalam menunaikan hak politiknya di bilik suara saat pemilu.

Kita harus sepakat bahwa perbedaan atau keberagaman itu adalah anugerah yang harus diterima, dan bagaimana menyikapinya dengan rasa syukur agar semua dapat berjalan normal, lebih tertata apik, kondusif dan stabil. Dalam menjalankan proses berbangsa harus dijauhkan dari berpikir bahwa kelompok yang satu lebih baik dari kelompok yang lain dan sebaliknya.

Jika diri kita sendiri mudah terpancing untuk membahas hal yang menyinggung hak azasi setiap orang, maka di era demokrasi yang mengedepankan perlindungan hak azasi manusia (HAM) akan sering tersangkut pada masalah hukum.

Dengan pola demikian proses demokrasi menjadi sangat liar, jauh dari berpikir dan bertindak intelektual berdampak minus. Apapun yang kita share di media sosial (medsos) akan dibaca oleh banyak orang yang memiliki keberagaman ilmu dan pemahaman, satu topik yang dibagikan umpan baliknya (feedback) bisa sangat beragam pula. Apalagi jika menayangkan sesuatu yang memicu ricuh, sejatinya para pengguna media sosial sudah tahu, sadar dan paham akan aturan umum yang berlaku.

Spirit yang dibangun, karena sudah membuang pulsa/quota dan energi sejatinya dapat lebih bermanfaat konten/cuitan yang dishare tersebut. Jadikan medsos sebagai ruang belajar untuk menambah wawasan/cakrawala berpikir, menambah informasi, serta mengenal lebih banyak karakter orang dan jika kita memiliki kekuatan untuk bisa membimbing, melengkapi, menguatkan akan lebih berharga.

Pola seperti ini otomatis membentuk karakter pribadi yang positif, ruang publik nasional juga terjaga baik, apalagi jika yang didiskusikan dapat menghasilkan sebuah solusi dari persoalan bangsa yang dinamis. Saling mengingatkan dengan bahasa yang bijak, maka terjalin hubungan yang lebih erat.

Rasanya ini rumus yang sangat umum semua orang tahu, tapi faktanya sering terjadi sebaliknya, jikapun ingin mencari panggung dapat dilakukan dengan cara yang simpati, akan lebih memberi rasa senang dan apresiasi yang tinggi. Sebaliknya jika tidak hati-hati dalam mempublish konten, urusannya akan terjadi laporan ke kepolisian.

Sepakat mulai saat ini untuk tidak mempublish sesuatu yang merugikan siapapun walau berbeda politik, Kepolisian cyber dapat menelusuri akun-akun yang terindikasi memicu kericuhan yang dikhawatirkan berujung chaos dan keamanan nasional terganggu untuk segera ditindak.

Sebagai orang dewasa, bertahun-tahun menggunakan ruang medsos sejatinya sudah semakin arif, setidaknya untuk dirinya sendiri, jika tidak paham juga artinya orang tersebut memang perlu mendapat pelajaran tambahan di tempat khusus sebagai efek jera.

Bukan tentang agamanya, rasnya, golongannya, statusnya, warnanya, kelompoknya tapi tentang kepribadian (personality) orangnya. Maka ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan telah menyebabkan kegaduhan di lingkungan publik nasional, siapapun dia. Hukum harus berjalan seperti yang dikehendaki untuk menjaga ketertiban dan menjamin keamanan umum.

Apakah buzzerRp, orang per orang atau dari partai politik sejatinya sebagai bangsa besar yang memegang prinsip kuat adat ketimuran dapat mengendalikan diri. Yang diserang saudara sendiri padahal musuh nyata saat ini adalah virus corona yang telah merenggut nyawa saudara-saudara kita. Apakah semua lupa jika ada virus corona?

Mulai dibangun spirit berbangsa yang lebih damai, tenang, adem maka lingkungan akan terjaga baik dan bersahabat. Hanya dengan memiliki rasa persahabatan lebih mudah memperoleh jalan keluar bagi kita semua. Jika masih membahas ras, agama, golongan berarti bangsa kita mundur ke belakang sementara tujuannya berada di depan dalam menggapai harapan.

Harus dimulai dari sekarang saat ini juga, setiap orang berperan sebagai pemadam api jika ada masalah muncul tapi bukan sebaliknya malah ikut mengobarkan api lebih besar, akhirnya semua terbakar. Berhenti membahas hal riskan yang tidak substansial, apalagi jika berani masuk ke ruang privacy seseorang, mulailah untuk berlaku lebih sopan maka feedback yang dirasakan juga lebih sejuk.

Terpenting dari semua itu jika kita mengaku sebagai orang yang religius (beragama), tunjukkan dalam pikir, ucapan dan tindakan yang bisa dirasakan teduh bagi lingkungan. Akhlak yang baik lebih disukai karena membuat setiap orang merasa lebih aman terlindungi.

Bukan lagi tentang benar dan salah, tetapi tepat atau tidak apa yang kita sampaikan memberi manfaat atau sebaliknya menjadi tolak ukur jika berada di ruang publik.

Baca Juga: Media Literasi Digital Itu Bernama YTPrayeh.com

Mari bersama-sama kita perangi wabah dan selamatkan diri agar terhindar dari terinfeksi wabah virus corona dan virus pikiran yang saling melemahkan. Jika tidak juga mau menghindari virus-virus tersebut, akan seperti lingkaran setan yang terus berputar di tempat yang sama, rumit dan semakin menyulitkan, sampai kapan seperti ini? Bangsa beradab adalah yang tahu kapan marah, kapan melawan, kapan menyerang, kapan bertahan, kapan menjaga, menyayangi dan melindungi.

Pentingnya setiap orang memiliki giat yang menghibur seperti rutin berolahraga dan berkreatifitas agar fokus tidak semata terpaku pada ruang medsos dan mudah terpancing. Terus kembangkan potensi diri yang dimiliki, maka kehidupan akan lebih produktif otomatis menjadi pribadi-pribadi kuat.

Tulisan ini lebih sebagai rasa prihatin penulis terhadap generasi muda Indonesia yang masih belum move on dari berpikir melemahkan.


Jakarta, 01.02.2021
Dr. SusiLawati M.A., M.Han