Filosofi

Fungsi Utama Negara untuk Menjaga dan Melindungi Rakyat

Rabu, 31 Maret 2021, 06:17 WIB
Dibaca 116
Fungsi Utama Negara untuk Menjaga dan Melindungi Rakyat
Ilustrasi bom bunuh diri (Foto; Okezone.com)

Sepertinya kali ini sudah kehabisan kata-kata atas apa yang terjadi dan dirasakan saat ini, bahwa sejatinya adanya negara berfungsi untuk menjaga dan melindungi rakyat dari serangan, gangguan yang menakutkan di lingkungan aktivitasnya sehari-hari. Tapi bukan semata hanya mengurusi tentang politik yang akhirnya justru menabrak aturan dan moral dalam proses demokrasi yang tidak mendidik rakyat karena selalu berujung ricuh/gaduh.

Akhirnya lagi dan lagi, negara kecolongan atas terjadinya ledakan bom bunuh diri di gereja Katedral Makasar yang dilakukan oleh dua orang. Hal seperti inilah yang terjadi jika pemerintah sebagai penyelenggara negara tidak memberikan pendidikan yang mencerahkan bagi rakyatnya, hal-hal seperti ini makin ke sini seharusnya sudah hilang dari bumi Indonesia, tapi nyatanya masih saja terjadi yang mengakibatkan banyak korban jiwa orang tidak berdosa dan rakyat takut beraktivitas. 

Indonesia mengakui keberadaan 6 agama yang ada di Indonesia dan setiap warga negara Indonesia memiliki kebebasan memilih agamanya masing-masing sesuai yang diyakini dan dilindungi oleh negara, itu tercantum pada sila pertama Pancasila sebagai ideologi negara. 

Namun seringkali terjadi tindakan yang membahayakan keselamatan bagi penganut agama yang berbeda, bagaimana tanggung jawab pemerintah dalam hal ini? Mengapa selalu berulang dan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 

Jika negara terlalu dominan mengurus politik, sementara tugas utama adanya negara adalah menjaga dan melindungi rakyatnya, lalu dimana pemerintah dalam hal ini? Terkesan abai terbukti sering kecolongan, lalu apalagi yang bisa diharapkan rakyat kepada pemerintah untuk melindungi?Korban jiwa melayang sia-sia akibat tindakkan kelompok yang merasa paling benar dan suci di mata Tuhan. Apa alat ukur yang mereka gunakan untuk memastikan bahwa diri mereka lebih mulia dari manusia lainnya? Jika hanya sebagai simbol sangat dsayangkan, karena terpenting dapat dirasakan sikap diri yang mulia dan suci tersebut di lingkungan bermasyarakat menyejukkan tapi bukan sebaliknya.

Walau salah, preman lebih jujur, mereka terbuka menyatakan diri mereka sebagai begundal dan jelas harus ditumpas dan mereka menerima itu, tapi kelompok teroris menjalankan perjuangannya berbungkus sesuatu yang baik dan membaur dengan masyarakat.

Mereka bermain di garis abu-abu, jika mereka gentle seharusnya muncul di depan dan menyatakan sikap sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang telah semena-mena mengambil hak hidup orang lain. Jika berjuang dengan cara main petak umpet terus sudah pasti perjuangan yang demikian bukan sebuah perjuangan yang baik, karena ada unsur tricky di sana, mengendap-endap, memata-matai keadaan dan tanpa rasa bersalah menyakiti makhluk lain sebagai ciptaan Tuhan sama dengan dirinya, padahal tidak ada masalah yang clear antara mereka dan pemerintah, hanya pikiran sepihak dari mereka dan berkembang sendiri dengan liar. 

Jika sampai saat ini masih terus terjadi kejadian pembom-an seperti ini, kira-kira bagaimana upaya pemerintah selama ini menyiapkan dan mensiagakan serta mengontrol kondisi kehidupan masyarakat Indonesia? Siapa sebenarnya yang lalai dan tak mampu selama ini sehingga hal yang begini terus terjadi? Rakyat sebagai korban yang dianggap tidak bisa menjaga dirikah? Atau penegak hukum yang tidak mampu menjalankan tugas dengan maksimal agar dapat terminimalisir kejahatan kemanusiaan seperti ini atau memang pemerintah sebagai pengemban amanah rakyat yang lupa karena menganggap belum ada kejadian yang mencekam sehingga hanya berfokus dan tertuju pada kepentingan politik yang tiada berakhir demi terpenuhi kehendak kelompoknya?

Mari semua bangsa Indonesia saling membuka hati, saatnya kita saling menguatkan karena musuh bersama kita yang sebenarnya adalah para teroris, koruptor, kemiskinan, kebodohan, wabah dan bencana alam. Jika lingkungan kehidupan bermasyarakat sudah tenang jangan selalu dibuat ricuh, jika seperti ini terus khawatir tiba pada satu titik jenuh yang memunculkan gelombang amarah rakyat yang tidak terbendung, yang rugi tentu kita semua bangsa Indonesia. Memang merebut kemerdekaan dari penjajah asing lebih mudah daripada mempertahankan kemerdekaan karena yang dihadapi adalah bangsa sendiri.

Semoga pemerintah Indonesia segera tersadar dan bangkit untuk kembali pada fokus utamanya menjaga persatuan dan kesatuan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menjalankan amanah besar rakyat sebagaimana mestinya, karena rakyat menyandarkan diri pada negara/pemerintah.

***