Filosofi

Manusia, Makhluk Hidup Bagian dari Siklus Semesta Alam

Selasa, 26 Oktober 2021, 17:59 WIB
Dibaca 128
Manusia, Makhluk Hidup Bagian dari Siklus Semesta Alam
Manusia dan semesta (Foto: brilio.net)

Beruntung manusia sebagai salah satu makhluk hidup yang beraqal mengisi kehidupan di bumi. Karena artinya manusia diberi kendali untuk mengatur keseimbangan hidup bagi semua makhluk.

Kehidupan manusia dapat diteliti dan ditelusuri dari dua hal yaitu secara fisik dan rohani. Jika dari rohani maka dominan ke spiritual yang berarti lebih ke dalam jiwa sebagai perenungan diri terhadap kehidupan dan sang maha pencipta hidup.

Secara fisik, maka manusia kembali pada kenaturalan semesta alam karena manusia adalah bagian dari siklus (Putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur, KBBI) semesta.

Lahir, tumbuh, besar, tua, dan mati kemudian kembali menyatu dengan tanah yang berarti menjadi partikel-partikel (Unsur-unsur dasar benda atau bagian benda yang sangat kecil dan berdimensi materi yang sangat kecil seperti butir pasir, elektron, atom atau molekul, KBBI) berproses ratusan bahkan ribuan dan jutaan tahun dan manusia tidak pernah tahu tentang proses dan rentang waktu tersebut karena bagi manusia yang masih diberi kehidupan lebih berfokus dengan aktivitas duniawinya.

Siklus alam semesta yang terus berdinamika terus berputar, menghasilkan banyak perubahan baik pada cuaca, perubahan perilaku manusia, perubahan karateristik bumi dan seterusnya. Zat dari tubuh manusia yang membusuk serta sarinya menguap dengan kealamiahan semesta sehingga bisa menjadi apa saja yang ada di bumi bahkan seperti kumpulan awan menjadi rintik hujan yang membasahi bumi, angin, salju, oksigen. Tanaman menjadi subur, fosilnya menjadi sumber minyak, akibat kelembaban unsur hara (Bermacam-macam mineral yang terdapat dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Zat hara juga merupakan sari makanan dalam bentuk cair. Mineral tersebut dalam bentuk cair yang dapat diserap oleh akar untuk disalurkan ke zat hijau daun, Wikipedia) yang terus mempengaruhi perubahan siklus tersebut.

Itulah fungsi manusia secara fisik terhadap siklus alam yang terjadi secara alamiah.

Oleh karena itu manusia sebagai makhluk yang berpikir harus bersyukur karena memiliki peran besar untuk mengatur kehidupan agar semua makhluk dapat hidup harmoni dan sustainable. Tentu bagi mereka yang paham, hidup ini hanya sebagai tempat bermain belaka sehingga penting memiliki pola pikir lebih terbuka (lebih ringan) agar memudahkan dalam menjalani serta memberikan karya terbaik yang bermanfaat dapat digunakan selain sebagai kenangan bagi peradaban kehidupan manusia.

Jika sudah tahu dan sadar bahwa hidup itu ibarat mampir, maka terbaik adalah mengukir sejarah baik sebagai arah pedoman bagi kehidupan manusia di bumi. Jadikan setiap diri berguna, walau hanya singgah dalam kehidupan dunia bukan berarti tidak bisa meninggalkan jejak baik, jika setiap manusia terus demikian, maka saat terjadi reinkarnasi (hidup kembali di bumi dengan peran dan situasi yang berbeda) keadaan bumi sangat baik. Dengan kesadaran itu, antar manusia dapat saling menghargai, kedamaian hidup tercipta, andai manusia harus menghadapi kematian juga sudah lebih ikhlas melepas keterikatan duniawi.

Tidak ada yang lebih membahagiakan selain manusia merasa satu sebagai makhluk yang diberi kepercayaan lebih dibanding makhluk lainnya di bumi, oleh karenanya harus bisa saling mengasihi serta sumbangsih kebaikan diantara manusia itu sendiri apapun status dan kedudukannya. Selama memiliki rasa kemanusiaan, tidak ada lagi manusia yang menderita (perang) semua terbebaskan dan dihargai.

Itulah jalan terbaik bagi manusia, tidak ada lagi penindasan terhadap nyawa manusia dan semena-mena karena sejatinya kita semua memiliki derajat yang sama di alam semesta.

***

Tags : filosofi