Filosofi

Manusia Seluruh Dunia Disatukan atas Dasar Kemanusiaan

Senin, 24 Mei 2021, 13:13 WIB
Dibaca 84
Manusia Seluruh Dunia Disatukan atas Dasar Kemanusiaan

Tidak ada lagi batas ras, agama, etnis, negara dan bangsa tetapi semua manusia menjadi satu sebagai entitas yang sama. Dalam menghadapi musuh bersama saat ini, adanya wabah virus corona yang menyerang umat manusia sejatinya ini menjadikan setiap individu lebih mawas diri agar terselamatkan jiwa dan raga dari virus yang mematikan ini.

Jutaan orang mati di seluruh dunia akibat penularan yang terlalu cepat, sebagai virus baru yang harus dikenal lebih dalam tentang jenis virus untuk memastikan obat penawar virus. Tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena harus berkejaran dengan waktu di sisi lain virus terus menggerogoti manusia walau sudah dilakukan upaya pencegahan ataupun penangkalannya dengan cara rajin mencuci tangan dan selalu menggunakan sanitizer, menghindari berkumpul dengan banyak orang dan selalu gunakan masker jika berada di luar rumah.

Akhirnya semua kegiatan yang biasa dilakukan di luar rumah sebelum wabah mau tidak mau harus dilakukan dari dalam rumah. Untungnya perkembangan digital saat ini sangat baik dan dapat mendukung aktivitas manusia melalui media sosial ataupun smartphone. Fokus manusia benar-benar tercurah pada situasi buruk ini, dan korban terinfeksi Covid-19 seluruh dunia telah mencapai 167. 365. 566 kasus, dan yang meninggal sebanyak 3.475.086 jiwa, sembuh 148.381.478 orang (Worldsmeters.info).

Namun jumlah besar yang mengkhawatirkan tersebut tidak membuat perilaku sebagian manusia bisa mengendalikan diri dari hasrat berperang, tidak disangka kembali meletus konflik Palestina Israel yang memang sudah lama terjadi dan belum juga tuntas diakhiri oleh kedua negara tersebut.

Kondisi ini menjadi perhatian dunia dan memunculkan pro dan kontra terhadap terjadinya perang di antara dua negara yang telah memakan korban jiwa manusia lebih dari 200 jiwa orang termasuk anak-anak.

Atas nama kemanusiaan hal ini tidak patut terjadi di era sekarang, saat perlindungan hak azasi manusia (HAM) digalakkan yang bertujuan agar tidak terjadi lagi pembunuhan massal terhadap manusia (genosida). Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia bertanggung jawab penuh untuk mewujudkan perdamaian dunia, harus tegas menunjukkan kepedulian terhadap perlindungan pencegahan perang, pembersihan etnis dan kejahatan humanitas.

Beragamnya informasi yang bermunculan sebagai dasar untuk memutuskan apakah sebaiknya mendukung atau tidak mendukung pada United Nations general Asembly (UNGA) agar perang Palestina Israel dihentikan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Indonesia bersama negara-negara lain bersatu mendukung perang harus diakhiri, dan ini bermakna untuk semua negara agar tidak lagi terjadi invasi militer terhadap negara lain yang mengakibatkan penderitaan manusia. Indonesia harus bisa mengambil momentum ini untuk mengangkat posisi tawarnya di mata internasional bahwa Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung tinggi hak azasi manusia. Apalagi jumlah etnik di Indonesia sangat beragam, menjadi kekayaan dunia yang berada di bumi Indonesia, harus terus dijaga, dilindungi dan dilestarikan.

Seluruh umat manusia di dunia hanya dapat disatukan atas dasar kemanusiaan, dengan demikian akan menghadirkan keadilan dan perdamaian. Jika negara-negara di dunia bisa kompak dan bersikap tegas maka perlindungan terhadap HAM tidak semata hanya di pikiran dan ucapan, tetapi juga tindakan dan keputusan agar kehidupan manusia di dunia terkendali dan terjamin baik.

Manusia di bumi menjadi one world, sebagai entitas yang sama memiliki kesadaran yang membedakan dari makhluk hidup lainnya.

***