Filosofi

The Good Human Is A Real God

Minggu, 27 Juni 2021, 20:08 WIB
Dibaca 103
The Good Human Is A Real God
Pengungsi (Foto: cfr.org)

Sebagai salah satu makhluk yang ber-Tuhan, sedari kecil telah diajarkan orangtua tentang bagaimana menjalani hidup beragama. Hingga kini yang belum aku pahami, walau menurut ajaran agamaku jangan lagi membahas dengan logika, ikuti saja sebagai keyakinan yang jalankan sebagai sebuah kewajiban.

Itu tidak masalah, yang aku pikirkan bagaimana Tuhan atau Allah yang dimaksud oleh semua agama agar bermakna lebih dalam dan paham, saya yakin maksudnya adalah bukan tentang fisik Tuhannya tapi ruh atau spirit Tuhan yang selalu berorientasi pada sikap hidup manusia yang baik agar kehidupan manusia terselamatkan baik secara peradaban maupun kepunahan.

Dengan bertambahnya usia, semakin memunculkan berbagai pertanyaan, untuk menjawab rasa penasaran itu, hanya sebagai eksperimen pribadi, hingga pada usia setengah abad ini dan sepanjang usia itu aku berupaya mencari benang merah apa yang dimaksud bahwa Tuhan atau Allah itu maha baik dan penyayang. 

Akhirnya aku menemukan jawaban yang sebatas pikiranku, namun tetap untuk hal yang baik. Bahwa, semua itu kembali ke diri masing-masing sebagai makhluk hidup yang berakal.

Kita mencari dimana kebaikan itu bisa ditemukan dan kebaikan itu bisa ditemukan hanya di dalam diri setiap manusia dalam arti manusia yang memiliki keluasan dan kelapangan hati terus berkomitmen menjaga kehidupan duniawi dengan cara berpikir dan berperilaku menyejukkan.

Peduli untuk saling berbagi cinta dan rasa, menghormati dan menghargai setiap orang, membimbing dan memperhatikan mereka yang membutuhkan bimbingan ataupun pertolongan untuk siapapun yang membutuhkan yang berada di sekitar kita apakah anak kecil, remaja, lansia atau teman yang sedang dalam kesulitan hidup. 

Lewat tangan-tangan orang yang peduli itu Tuhan bekerja, yang berarti Tuhan Allah yang saya pahami adalah spiritnya, ruhnya. Maka oleh sebab itu Tuhan atau Allah tidak berwujud secara fisik karena harapannya Tuhan Allah itu ada di dalam diri setiap orang. 

Sehingga aku dapat menyimpulkan, bagi kehidupan manusia di dunia yang hidup dalam realitas bahwa Tuhan Allah itu adalah mereka yang memiliki kebaikan terhadap sesama manusia ataupun kepada lingkungan hidup. Dengan demikian menghadirkan keseimbangan pikir dan sikap dalam hidup yang berdampak baik kehidupan menjadi lebih damai, harmoni dan bahagia. Manusia yang penuh kebaikan adalah Tuhan yang nyata dan dirasakan kebaikannya oleh orang lain.

Inilah sejatinya makna rahmatan lil alamin bahwa keselamatan bagi semesta alam sebagai CiptaanNya yang harus terus menjadi konsep dan pandangan hidup bagi seluruh umat manusia di dunia sebagai makhluk yang berpikir.

***