Filosofi

Orang Miskin Hati Identik dengan Sikap Kufur Nikmat

Kamis, 20 Mei 2021, 06:54 WIB
Dibaca 127
Orang Miskin Hati Identik dengan Sikap Kufur Nikmat
Ilustrasi iri dan stress (Foto: grid.id)

Hanya mereka yang memiliki kekayaan hati yang mampu mewujudkan mimpi, harapan dan cita-cita menjadi nyata. Kerja keras, kerja cerdas menjadikan kehidupan lebih mudah, kualitas hidup meningkat secara fisik maupun batin menghasilkan sikap perilaku mandiri, bersyukur dan bertanggung jawab. 

Tapi bagi orang-orang yang miskin hati sulit menemukan ketenangan hati, sehingga mereka tidak bisa menikmati atau mensyukuri setiap berkah dari peluang yang ada. Bahkan saat diberi amanah, cenderung tidak jujur dan tidak tulus karena sibuk mencari peluang yang menguntungkan diri sendiri. Apakah sebagai pemimpin, sebagai politisi, sebagai pejabat bahkan sebagai rakyat, jika miskin hati maka memunculkan kehidupan sosial yang tidak aman, nyaman, tenang, adem.

Jika kehidupan sebuah bangsa demikian, alangkah buruknya peradaban bangsa tersebut, tidak ada lagi arti dan makna hidup yang sebenarnya karena semua orang berfokus pada hal-hal yang palsu. 

Pendidikan yang dimiliki menjadi tidak berguna, hilangnya keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadikan mereka manusia yang merugi. Mereka tidak lagi takut kepada siapapun bahkan kepada Tuhan asal mereka bisa mendapatkan apa yang dimaui walau caranya tidak benar.

Jika dikaitkan dengan kondisi hari ini di kehidupan bangsa Indonesia, rasanya perilaku demikian bukan lagi hal yang tabu, tidak malu dan tidak takut. Contoh lain perilaku masyarakat di media sosial, banyak yang ingin menunjukkan bahwa pendapatnya yang paling benar, pendapat orang lain salah sejatinya tidak harus membenturkan pendapat jika berbeda tetapi mencari kesamaan agar ketemu titik solusinya, atau minimal menghargai pendapat orang lain jika berbeda. Keberagaman sosial (ilmu, pengalaman dan pemahaman yang beragam) yang seringkali menjadi sumber pemicu gaduh.

Orang-orang sangat mudah terprovokasi mengakibatkan kondisi demikian menyedot energi dan membuat lelah jiwa. Tergerusnya moral masyarakat saat ini dampak negatif arus globalisasi dan perkembangan digital, tidak mampu menyikapi dan mengimbangi dengan baik sehingga mengganggu stabilitas kehidupan bermasyarakat.

Bagaimana bangsa Indonesia bisa menjalani kehidupan dengan hati yang kaya agar terselamatkan keberadaban bangsa Indonesia sebagai bangsa timur? Jawaban itu ada di masing-masing diri setiap warga negara Indonesia yang memiliki kesadaran penuh dalam kehidupan berbangsa bernegara dan bertanggung jawab.

***