Ekonomi

Credit Union (CU) | Financial Literacy Dayak

Selasa, 14 Juni 2022, 07:38 WIB
Dibaca 854
Credit Union (CU) | Financial Literacy Dayak
CU Keling Kumang yang visioner.

Baru saja saya keliling Kalimantan Barat selama 2 minggu.

Apa yang terjadi?
Perubahan. Ya, perubahan. Hal yang telah dinujumkan oleh filsuf Yunani kuno, Heraclitus  (* 535 SM di Efesus, Turki + 475 sM). Dirumuskannya secara bernas hasil amatannya. Usai merendam kaki di sealir sungai mengalir. Sang ahli-pikir mengamati: air yang sama, tidak pernah kembali lagi. Begitu seterusnya.

Maka sang filsuf lalu merumuskan hasil amatan, sekaligus perenungannya yang dalam itu. Terangkai dalam kalimat singkat, "panta rhei kai ouden menei."

Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini. Semua sirna. Bagai air mengalir yang tak-pernah kembali lagi. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Bagai sungai Kapuas. Sungguh berubah wajah bumi Borneo. Terutama bila dibanding 10, 20, 30, bahkan 40 tahun sebelumnya ketika saya tinggalkan.

Perubahan ke arah yang positif tentu saja. Salah satu di antaranya adalah beralihnya pusat kebudayaan, sekaligus pusat ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan dari pinggir sungai atau pesisir ke tengah-tengah hutan ketika itu yang pada saat ini dilalui oleh jalan trans Kalimantan, jalan nasional, selain jalan internasional yang langsung menghubungkan Kalbar ke negeri Sarawak, Malaysia.

Bahkan beberapa di antaranya adalah dibangunnya bandar udara. Salah satunya di Sintang. Yang letaknya antara perbatasan Sekadau dan Sintang yang diberi nama Tebelian. Yakni nama untuk kayu besi atau kayu ulin di kalangan penduduk Kalbar.

Peralihan. Sekaligus ekses, pusat kebudayaan dan pusat apa pun juga dari pesisir /pinggir sungai ke tengah-tengah hutan ini. Telah pun saya prediksi tahun-tahun sebelumnya.

Credit Union (CU) Keling Kumang motor, sekaligus penganjur gerakan ekonomi kerakyatan Kalimantan Barat. Anggotanya kini 205.000. Tersebar di seluruh Kalimantan Barat. Kantor pelayanan sebanyak 70. Adapun asetnya mendekati 2 T.

Dahulu kala. Pusat kebudayaan di pinggir sungai di mana orang Dayak tidak dapat bersaing ketika itu. Sedemikian rupa,  sehingga pada akhirnya terdesak pindah ke daratan.

Hikmahnya, tentu saja, ada. Kemudian hari, mereka mempunyai banyak lahan seluas-luasnya sejauh bisa dan mampu dibuka. Tinggal menandai saja batas lahan dengan tanaman buah, atau karet. Itu sudah ada pemiliknya. Dan mereka mempunyai banyak tanah pada saat ini.

Itulah yang kemudian dikenal sebagai blessing in disguise. Dahulu kala. Orang darat adalah cap atau labeling bagi orang Dayak karena suka tinggal dan bermukim di darat, jauh dari pesisir yang dianggap "beradab". Namun, kini kutukan tersebut berubah menjadi berkat.

Saya bahkan punya dua topik penelitian yang akan jadi buku. Semoga saja mencelilkan banyak orang.

Pertama, tentang perubahan pusat kebudayaan dan pusat apa pun juga ini dari pesisir ke daratan. Dengan implikasi-implikasinya yang sangat mendasar dan signifikan.

Kedua, fenomenon mengenai menggeliatnya ekonomi kerakyatan yang saya sebut sebagai prakapitalisme di Kalimantan Barat yang awal mula digerakkan oleh Gereja Katolik di Kalimantan Barat dengan menggelorakan semangat berkoperasi atau berkredit union.

Akan tetapi, jangan takabur dulu. CU tumbuh dan berkembang di Kalimantan bukan tanpa sebab. Hasil amatan saya sebagai berikut: CU hanya bisa tumbuh dan berkembang di tempat orang saling percaya.Warga membutuhkan satu sama lain. Komunitasnya guyub. Saling tolong. Penuh dengan kepercayaan dan cinta kasih, dengan kadar bela rasa yang tulus.

Kemudian, spirit ini ditangkap oleh masyarakat Dayak, terutama di Kalimantan Barat yang dikenal adalah CU Lantang Tipo tahun 70-an diikuti CU Pancur Kasih. Dan kemudian luar biasa tumbuh di tanah ibanik Sekadau, Sintang, dan Putussibau yakni CU Keling Kumang. Nama ini dipetik dari  tokoh Rama dan Sinta-nya orang Iban.

Tidak dapat menarasikan CU yang lain di sini. Akan tetapi, cukup Keling Kumang saja. Anggotanya kini  205.000.

Tersebar di seluruh Kalimantan Barat. Kantor pelayanan sebanyak 70. Adapun asetnya mendekati dua triliun.

Sekadar untuk diketahui. CU Keling Kumang bukan hanya mengurusi urusan kredit saja, simpan pinjam. Melainkan juga mempunyai semacam holding company. Salah dua di antaranya adalah SMK Keling Kumang dan Institut Teknologi Keling Kumang.

Selain itu, punya juga mini market, yaitu pusat-pusat perbelanjaan yang tiap kali dipadati oleh pengunjung dan anggota-anggota.

Dan hal yang sangat kita fokuskan perhatian adalah mengenai salah satu misi CU Keling Kumang, yakni financial literacy atau melek di bidang keuangan bagi orang Dayak dan seluruh anggotanya.

Sangat nyata literasi finansial ini. Bagaimana CU mendidik orang-orang Dayak supaya berhemat, menabung, disiplin dalam hal keuangan (membayar kredit sesuai jumlah), supaya kalau meminjam uang itu tidak konsumtif akan tetapi produktif.

Dan kredit yang dikucurkan CU, dibantu dan didampingi untuk digunakan anggota sesuai dengan tujuan. Kredit hendaknya digunakan secara sangkil dan mangkus sebagai modal bekerja sedemikian rupa, sehingga menghasilkan uang dari modal tersebut.

Dan kini. CU Keling Kumang sudah sangat maju. CU dengan warna khas biru merah ini mobile dan juga lincah dengan mendirikan juga ATM di berbagai kota dan tempat.

Selain itu. CUKK juga sangat visioner ke depan. Geliat dinamika serta akselerasinya, tidak kalah dibanding bank-bank umum. Dengan produk dan jasa biasa yang menyediakan kemudahan dalam bentuk transaksi atau uang digital.

Hal yang cukup unik. ATM CU Keling Kumang. Tidak harus menggunakan kartu untuk transaksi.

Cukup menggunakan ponsel. Tentu saja, sudah men-down load aplikasi Keling Kumang Digital.

Kini CU sungguh memudahkan anggota yang mobile, pelayanan prima dan profesional. Bisa juga transfer dan transaksi virtual ke segala keperluan. Terkini. Jika ada "Bank Dayak" mengapa menggunakan yang lain?

Bayangkan saja! Berapa biaya administrasinya? 250.000 anggota dikalikan sekali transaksi rp6.500 sudah berapa? Mendingan membesarkan "bank" sendiri. Sebab akan kembali kepada kita kebesarannya.

Mari sama-sama kita jadikan CU terbesar dan terbaik di negeri ini.

Sekaligus kita gelorakan financial literacy. Hingga ke seluruh negeri.

Dan satu hal penting lagi yang patut diingat. CU di Kalimantan, tahun lalu, sempat diributkan. Dibikin seakan-akan salah. Dengan berbagai dalih. Dicari-cari. Terkesan "ada pesanan". Namun, semua bermuara pada "kecemburuan sosial". Salah satunya, asas koperasi --yang dimiliki semua anggota ini- hendak dibidik dengan peraturan perbankan. Ya, dilawan!  Sebab salah kaprah. Salah seorang tokoh yang berteriak, dan lantang melawan, adalah Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, M.A. Selain dr. Karolin Margret Natasha, mewakili Pemuda Katolik.

Toh, bagaimanapun. Meski cukup merepotkan. Sekaligus menyebalkan. Tetap ada hikmah peristiwa mengacak-acak CU. Badan CU tumbuh jadi kian imun. Tahan terhadap amukan badai. Tidak guncang meski kondisi turbulensi.

CU itu tetap pada fitrahnya. Koperasi. Tapi rasa Bank Dayak.

Nah!