Ekonomi

Bukit Satu Miliar

Jumat, 19 November 2021, 17:02 WIB
Dibaca 64
Bukit Satu Miliar
Bukit satu miliar dan gadis pemetik lada.

Mengapa mencari ke kota, sementara rezeki itu ada di desa? (Yansen TP).

Inilah buktinya. Kehidupan itu adanya di desa. Asal saja, dikelola dengan bijaksana dan bijaksini.

Aku menamai tempat ini: Bukit Satu Miliar.

Dan herannya. Banyak orang ikut latah. Lalu mengikutinya, setelah itu.

Nun jauh masuk pedalaman dan hutan rimba Borneo Barat. Pada suatu titik wilayah di mana pulau Kalimantan belum menggambar petanya. Hanya orang nekad mau ke sana. Namun, lihatlah! Kehidupan bagai di alam nirwana dan adanya pada dongeng dan legenda.

Bagaimana tidak?

Tiap kali usai panen lada.

Penduduknya kaya raya, meski daerah sangat sangat terpencil, jauh masuk pedalaman hutan Jangkang, Kab. Sanggau, Kalbar. Tak ada jalan tembus dapat dilalui kendaraan roda empat. Medan jalan berbukit, rawa, jalan setapak menanjak sangat curam dan tinggi.

Meski demikian, Teriang –nama dusun terpencil itu– bagai sudut taman Eden yang letaknya terpencil sekali. Namun, Tuhan memberi kehidupan bagi warganya. Lihatlah! Tiap panen lada, mereka sukacita. Hasilnya luar biasa. Aku menamai lahan kebun lada penduduk ini BUKIT SATU MILIAR. Dan herannya, banyak orang mengikutinya, setelah itu.

Nama dusun amat sangat terpencil ini: Teriang. Tak sembarang orang bisa mencapainya. Suasana tradisional. Ternak anjing, ayam, babi, masih berkeliaran di sana sini. Rencana, aku (kami) akan mempatenkan jenis lada lokal, dengan butir besar bulat cocok untuk lada putih dengan nama: lada teriang. Usianya setengah abad, aku saksikan, batangnya sebesar lengan orang dewasa, dengan tiang kayu belian (ulin) yang sudah tua berlumut dimakan tanah permukaannya jadi genting.

Ke situ, aku naik motor selama tiga jam bersama Mang Bol, karyawanku. Itu awal tahun 2015. Terpesona indahnya, segera kuputuskan MEMIDAHKAN BUKIT ITU ke lahanku, di Jangkang. Dua kecamatan berbatas dengan Serian, Negeri Sarawak. Jadi, hanya 3 tempuh perjalanan darat ke luar negeri. Jauh lebih dekat banding ke dari dari ibukota provinsi Kalimantan Barat, Pontianak.

Dan kini benar-benar sudah pindah. Bibit ladaku kebanyakan dari Teriang ini. Termasuklah bibit lokal dan semengok perak dan india (subhakara).

Aku lalu ingat kawan-rapatku, bupati Malinau, Yansen Tp yang lama kutak bersua selama teror bu Corona pak Covid. Dia intelektual yang sering diskusi ihwal berbagai topik. Darinya, saya tahu bahwa desa menyimpan potensi luar biasa, asal pandai dikelola.

Kami biasa kongkow-kongkow di lahan area perkebunannya, Bang Abak, sembari ngopi, minum teh, dan melihat ke kolamnya ikan-ikan berenang. Dia punya areal perkebunan yang bukan saja ditata rapi dan asri, tapi juga punya tajar mati dari kayu belian setinggi 12 meter dan diameter 0,5 m — kukira itulah tajar lada mati terbesar dan tertinggi di Indonesia.

Sungguh, surga tak perlu dicari ke mana. Surga bisa kita cipta dengan hidup damai bersahabat dengan alam dan segenap makluk ekologinya. Sekaligus, berusaha secara lestari menjaga konservasi untuk anak cucu negeri ini kemudian hari.

Kekayaan sebenarnya ada di sekitar kita. Persoalannya: bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada. Penduduk dusun Teriang, Kecamatan Jangkang, Kab. Sanggau, Kalbar ini nyatanya bisa.

Dan memang kita bisa!

Tags : ekonomi