Ekonomi

Kemiskinan Masih Mengakar di Negeriku

Senin, 5 April 2021, 09:00 WIB
Dibaca 218
Kemiskinan Masih Mengakar di Negeriku
Ilustrasi kemiskinan (Foto: suara.com)

Apa yang menjadi penyebab kemiskinan? Mengapa kemiskinan sulit sekali diatasi? Mengapa kemiskinan di Indonesia masih belum bisa teratasi? Tentu banyak sekali jawaban yang bisa dimunculkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat penduduk miskin di Indonesia pada September 2020 sebanyak 27,55 juta jiwa atau meningkat 2,76 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini bisa dipastikan akibat dampak dari serangan wabah virus Corona. Selain kesehatan dan keselamatan manusia terganggu, ekonomi masyarakat juga terpuruk.

Akhirnya bertambah jumlah orang miskin di Indonesia. Situasi sulit yang dihadapi membuat pemerintah dan elemen bangsa lainnya terus melakukan upaya dalam mengatasi ekonomi masyarakat terdampak utamanya.   

Kemiskinan juga bisa muncul akibat kurangnya produktivitas di sebuah negara sehingga lebih sebagai konsumen/konsumtif, begitu gangguan datang apakah karena bencana alam atau apapun yang sifatnya melemahkan kehidupan masyarakat akhirnya sering bergantung pada upaya pemerintah, pemerintah juga bergantung pada import. Sebab lain kemiskinan tidak juga kunjung teratasi adalah laju pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat, sehingga program-program pembangunan manusia menjadi lambat atau bahkan terhambat, sehingga jumlah rakyat yang bodoh tidak berkurang.

Ini harus menjadi perhatian mendasar bagi pemerintah dapat mengatur dan mengelola kehidupan berbangsa lebih tertata dan lebih tertib dari semua sisi (administratif maupun interaksi sosial). 

Sejatinya di era digitalisasi seperti sekarang lebih mudah mengatasi masalah kemiskinan. Masyarakat secara umum lebih mudah mendapatkan informasi tentang apa saja yang dibutuhkan. Dengan semakin canggihnya alat komunikasi dapat memudahkan menjalin hubungan bisnis dan seterusnya yang menghasilkan kemanfaatan ekonomi. Selain sebagai sumber ekonomi, juga sebagai sumber pengetahuan untuk diaplikasikan. 

Tapi faktanya kemiskinan masih belum berkurang, ataukah dampak dari budaya masyarakat yang memang tidak ingin berubah, sudah terbiasa dan nyaman dengan yang mereka jalani selama ini walau secara umum terlihat bahwa kehidupan mereka jauh dari kata layak. Masih saja dapat ditemui masyarakat miskin di perkotaan maupun di pedesaan, walau secara umum sebenarnya masyarakat sudah mulai berkembang maju dampak dari berkembangnya teknologi informasi yang sangat membantu dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan, pekerjaan, bisnis, spritual, pariwisata, hubungan silaturahmi rasanya semua saat ini lebih mudah dilakukan.

Dengan demikian harapannya sumber daya manusia (SDM) otomatis semakin tercerahkan. Apalagi jika sebagian rakyat berpegang pada sebuah adagium (di mana ada masyarakat dan kehidupan, di sana ada hukum/keadilan, KBBI) yang secara tidak disadari membentuk pola masyarakat menjadi tidak krearif karena berprinsip bahwa orang miskin akan terus dibantu dan menjadi tanggung jawab pemerintah.

Akhirnya menjadi alasan tidak mau berusaha dan bekerja keras, apalagi masih banyak yang berpikir bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur. Selama masih diberi kesempatan hidup merupakan momen untuk mengeksplorasi seluas-luasnya apa yang menjadi keinginan setiap orang untuk dikembangkan lebih lanjut. 

Masyarakat Indonesia tentu menginginkan kesejahteraan sebagai hak, tapi mengapa masih saja ada masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal setiap warga negara memiliki kebebasan untuk belajar, mengembangkan ilmu untuk maju.

Alangkah tepat jika upaya dari pemerintah untuk menarik mereka keluar dari kemiskinan dengan cara melakukan pemutakhiran data orang miskin (data terpadu kesejahteraan sosial) secara menyeluruh sekaligus sebagai strategi meningkatkan akurasi penerimaan bantuan sosial (selama masa pandemi) dengan begitu maka integrasi bantuan sosial melalui program reformasi perlindungan sosial harus lebih siap untuk dijalankan secara bertanggung jawab. Pemulihan ekonomi bagi pelaku usaha mikro dan ultra mikro harus menjadi prioritas untuk dibangkitkan kembali. Kemudian upaya dari masyarakat itu sendiri untuk bisa hidup mandiri dengan mengandalkan kemajuan digital dan memberdayakan diri sendiri dengan segala sumber daya yang dimiliki untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. 

Karena seluruh warga negara memiliki hak yang sama untuk hidup layak di Indonesia, maka penting memiliki kesadaran bahwa tanggung jawab untuk menyelamatkan diri sendiri melekat pada diri setiap individu paling utama. Memang tidak mudah mewujudkan pembangunan manusia yang baik setidaknya pada level standar, jika masyarakat mulai senang membaca akan memancing keingintahuan lebih besar lagi, hal ini sangat bagus untuk terus didorong pemerintah. 

Untuk mengantisipasi kemiskinan yang paling sederhana yaitu dengan menganjurkan setiap orang memiliki tokoh/ figur favorit menjadi motivasi yang menginspirasi mereka, ini dapat menolong dan mendorong masyarakat untuk cepat mau berkreasi, setidaknya meniru bidang tokoh idolanya tersebut. 

Pendidikan memang memegang peran besar mengubah kehidupan miskin menjadi lebih manusiawi. Dengan pendidikan, setiap orang dapat berpikir dan tertantang untuk melakukan sesuatu yang menjadi passionnya, walau tidak langsung menghasilkan keuntungan besar.

Dengan pendidikan membantu membukakan cakrawala pikir yang membangkitkan mental tangguh untuk senang bereksperimen pada hal yang disukai. Otomatis berdampak pada kemunculan sumber ekonomi baru plus kualitas SDM produktif, sangat baik bagi tumbuh kembang generasi muda Indonesia. Pada akhirnya kehidupan masyarakat menjadi sejahtera, jika model ini menjadi pola yang dijalankan terus menerus akan menguatkan ekonomi rakyat. 

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Semoga pada titik ini dapat dipahami pentingnya menjalani kehidupan sebagai manusia yang sudah diberi akal pikir untuk digunakan, jika bisa kaya dan bahagia mengapa tidak, jika bisa kaya dan terus di jalan Allah mengapa tidak, jika memiliki kekayaan hati dan kekayaan materi mengapa tidak? 

Bangsa Indonesia tidak boleh ada lagi yang hidup di bawah garis kemiskinan, di era modern saat ini tidak ada lagi yang pantas hidup miskin. Setelah pandemi wabah harus ada hikmah yang didapat, menjadikan momen kebangkitan ekonomi rakyat dan negara secara mandiri, stabil dan berkelanjutan, itulah Indonesia saat ini.

***