Ekonomi

Penduduk Kalimantan | Kayalah dengan Sawit di Tanah Sendiri!

Sabtu, 1 Mei 2021, 20:41 WIB
Dibaca 939
Penduduk Kalimantan   |  Kayalah dengan Sawit di Tanah Sendiri!
Sawit komoditas primadona. Perbandingan dengan komoditas lain, jauh. Dari sisi apa pun.

Daripada orang, dan pendatang, asing kaya di tanahmu karena sawit. Mending kamu yang kaya! Daripada etnis lain kaya, mending orang Dayak, sebagai pewaris sah bumi Borneo, kaya!

Demikian saya biasa memberi motivasi. Lebih sebagai pelecut, sebenarnya. Agar penduduk lokal terpacu. 

Tidak bisa tidak. Sawit akan terus bergulir. Menjadi komoditas andalan yang telah dijatuhkan Indonesia secara mantap dan berencana. Dalam 6 bulan terakhir, saya aktif dalam diskusi tingkat internasional terkait topik ini. Bukan alang kepalang kawan-diskusi saya itu. Pemutus kebijakan. Juga pelaku komoditas dan industri sawit negeri ini. Dari hulu hingga hilir.

Tidak syak lagi. Sawit komoditas primadona. Perbandingan dengan komoditas lain, jauh. Dari sisi apa pun dipandang. Camkan dengan saksama tabel seperti ilustrasi narasi ini!

Oleh sebab itu, ke muka, Indonesia harus dapat memproduksi minimal 25 ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit per hektar per tahun. Produksi sejumlah itu perlu ditingkatkan, minimal harus dapat dipertahankan, malah tetap mempertahankan daya saingnya di pasar minyak nabati dunia.

Seperti dikemukakan Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi. Bahwa Indonesia harus dapat memproduksi minimal 25 ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit per hektar per tahun. Produksi sejumlah itu perlu ditingkatkan, minimal harus dapat dipertahankan, malah wajib untuk tetap mempertahankan daya saingnya di pasar minyak nabati dunia.

Peningkatkan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) dan CPO fokus pada perkebunan rakyat. Hal itu karena yield yang dihasilkan perkebunan swasta sudah relatif tinggi. "Tidak sekadar mempertahankan keberlanjutan kelapa sawit, kita juga harus mempertahankan keberlanjutan daya saing sawit. Kita menjadi nomor satu (eksportir minyak nabati) karena memiliki daya saing, daya saing yang memberikan manfaat kepada petani sawit," jelas Bayu.

Sawit tidak dibatasi untuk sekadar menghasilkan CPO saja. Sawit harus menghasilkan multiproduk, mulai dari cairan, padatan, hingga gas. Produktivitas TBS tersebut hendaknya diikuti pula dengan rendemen (yield) setidak-tidaknya nya 25% atau menghasilkan CPO 5-6 ton per ha per tahun. Produktivitas TBS tersebut hendaknya diikuti pula dengan rendemen (yield) setidak-tidaknya nya 25% atau menghasilkan CPO 5-6 ton per ha per tahun.

Petani Indonesia agaknya masih perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya di bidang produktivitas sawit ini.

Ada dua penyebab utama mengapa Indonesia masih kalah dibanding Malaysia. Pertama, dari segi produktivitas. Minyak sawit rakyat Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan sawit Malaysia. Sawit rakyat Indonesia masih sekitar 2,7 ton minyak per hektar, sedangkan sawit Malaysia sudah mencapai 3,4 ton minyak perhektar.

Produktivitas ini terkait dengan perlakuan terhadap sawit, antara lain menyangkut persiapan lahan, pemilihan bibit, pemeliharaan, pemupukan, perawatan, perhatian, perlakuan, panen, hingga kepada keterampilan para petani. Dalam hal ini, kualitas dan produktivitas sawit Malaysia lebih unggul. Petani Indonesia agaknya masih perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya di bidang produktivitas sawit ini.

Agar semakin bersaing dengan pengekspor seperti Malaysia, petani sawit mandiri harus didampingi. Terutama di dalam penggunaan bibit tidak unggul (illegitim seeds) oleh petani mandiri rata-rata dilatarbelakangi ketidaktahuan mereka karena tidak adanya pendampingan dari pihak-pihak yang berkompeten di bidangnya.

Penyebab masih rendahnya produktivitas petani sawit mandiri negri kita adalah dalam hal pemanenan. Petani mandiri rata-rata belum memahami dan belum terampil bagaimana cara membersihkan gawangan atau memotong pelepah sawit dengan benar. Pada waktu panen pun para petani tidak memiliki pengetahuan yang memadai apakah buah sawit benar-benar telah matang dan siap untuk dipanen.

Di samping itu, penyebab masih belum maksimalnya produktivitas sawit petani mandiri adalah dalam hal peremajaan tanaman sawit yang terlambat. Sawit yang berusia atas 25 tahun, sudah selayaknya untuk diremajakan. Berbagai cara untuk itu, jika cukup biaya, maka pohonnya disuntik mati. Bersamaan dengan itu, ditanam sawit baru di antara sela tengah-tengah jarak pohon satu dengan yang lainnya.

Sesungguhnya, yang masih belum maksimal produktivitas sawitnya ini adalah perkebunan sawit rakyat. Hasil produksinya hanya 2 ton CPO per hektar per tahun. Jauh dibandingkan dengan produktivitas perkebunan swasta yang berkisar 4-8 ton hektar ha per tahun. Para petani mandiri cenderung untuk potong kompas, ingin cepat berhasil dengan biaya murah dan tenaga yang minim, sehingga menanam sawit dengan cepat dan murah tanpa mempedulikan lagi produktivitasnya ke depan.

Lompatan produktivitas itu perlu dalam upaya untuk merealisasikan visi menggandakan suplai CPO Indonesia ke pasar dunia sekitar 60 juta ton pada 2050.

Menurut pemantauan saya. Yang buruk selama ini dari sawit terletak dalam enam pokok yang berikut ini.

1. Kepemilikan. Investor luar kebanyakan. Atau orang luar. Penduduk setempat hanya segelintir saja.

2. Penempatan sumber daya manusia di perusahan. Sebenarnya, ini terkait dengan kualifikasi, tidak dapat dipaksakan.  Sering diprotes: mengapa penduduk lokal hanya buruh kasar? Tidak ada di jajaran manajemen, apalagi komisaris dan direksi? (Tengoklah ke dalam: apakah SDM kita sudah kapabel? Jangan buru-buru protes!)

3. Proses dan cara-cara mendapatkan lahan.

4. Uang beredar.

5. Trickle down effect atas kehadiran perusahaan/ usaha sawit.

6. Isu Deforestasi bisa ditepis, asalkan: 1/5 dari total lahan saja yang digunakan untuk perkebunan sawit.

Ini studi ilmiah. Yang ingin menyanggah, mari dengan adu data.

Ayo, penduduk lokal. Terutama Kalimantan. Yang masih berpotensi dikembangkan menjadi lahan perkebunan sawit rakyat. Jangan jadi penonton. Jadilah pelaku! ***

Tags : ekonomi