Ekonomi

Cara Kerja Terbaik Pemerintah untuk Rakyat

Selasa, 2 November 2021, 21:08 WIB
Dibaca 155
Cara Kerja Terbaik Pemerintah untuk Rakyat
Infrastruktur di Papua (Foto: Istimewa)

Tujuan bernegara adalah agar satu entitas sebagai manusia yang sama yang berasal dari suku, budaya, agama dan dilahirkan dari tanah udara yang sama sepakat untuk hidup lebih aman dan teratur. Oleh karenanya dibentuk sebuah pemerintahan yang menjalankan roda dalam pengelolaan penyelenggaraan negara.

Dalam menjalankan pengelolaan negara tentu dengan memperhatikan banyak hal dan hati-hati agar tujuan tercapai tetapi tidak gaduh serta stabilitas negara tetap terjaga baik.

Itu juga sebagai dasar berdirinya negara Indonesia, dengan pondasi keberagaman sosial sepakat membentuk sebuah negara dengan ideologi Pancasila, di mana ideologi ini sebagai arah pedoman seluruh rakyat Indonesia apa pun peran, fungsi dan profesinya dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia memilih sistem politik demokrasi dalam sistem politiknya, di mana setiap orang yang telah memenuhi syarat berhak untuk dipilih dan memilih dalam ruang demokrasi. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan kerja melebihi kemampuan rata-rata orang pada umumnya karena tantangan yang dihadapi tidak kecil. Tidak sekedar memiliki ambisi tinggi karena ingin memajukan negara tanpa melihat bagaimana perkembangan lingkungan strategis karena ini akan dapat membahayakan stabilitas negara.

Tanggung jawab terhadap keselamatan seluruh rakyat yang berjumlah 270 juta jiwa harus menjadi prioritas utama yang harus dijaga dari segala ancaman dan gangguan yang melemahkan.

Seperti saat ini, Indonesia dilanda wabah virus Corona yang begitu menakutkan sehingga melemahkan situasi nasional. Apalagi pemerintahan Jokowi sejak periode awal sangat fokus pada pembangunan infrastruktur secara besar-besaran karena ingin mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju lainnya, namun kurang memperhatikan dampak psikologi rakyat akhirnya infrastruktur yang dibangun dengan biaya yang tidak kecil tersebut saat ini tidak efektif terbukti sepi dari pengguna, rakyat masih memilih transportasi pribadi di banding menggunakan LRT (Light Rail Transit) misalnya, karena jarak ke stasiun LRT juga cukup jauh namun jarak tempuh LRT bisa dikatakan tidak terlalu jauh.

Inilah yang dimaksud dampak psikologi apakah masyarakat siap mengubah pola kebiasaan mereka dari transportasi pribadi yang dirasa lebih efektif dibanding menggunakan LRT dalam hal ini seperti LRT dari Velodrome ke Kelapa Gading yang masih sepi. Kemudian tol yang dibangun dari Kelapa Gading Pluit ke MOI yang begitu megahnya juga sepi dari pengguna akibat tiket tol yang mahal sementara jarak tempuh tidak terlalu jauh.

Beberapa waktu lalu juga terjadi tabrakan LRT di cibubur dalam tahap uji coba, bahkan belum diresmikan oleh pemerintah. Dibutuhkan pula kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk menerima transfer tehnology yang diperlukan.

Pembangunan proyek kereta cepat Bandung-Jakarta juga akhirnya membutuhkan tambahan biaya dari biaya awal, otomatis mengganggu keuangan negara. Belum lagi tentang pembangunan ibukota baru demi menciptakan pemerataan ekonomi nasional, ini semua harus menjadi perhatian khusus pemerintah sebagai pelaksana dalam mengelola pemerintahan.

Suatu perubahan yang ditujukan untuk memajukan negara sah-sah saja dilakukan, namun terbaik secara perlahan dan bertahap, harus hati-hati dengan mempertimbangkan kemampuan negara (anggaran dan SDM). Perubahan yang dilakukan secara cepat dan terburu-buru berdampak pada psikologi masyarakat terganggu akibat mereka harus menyesuaikan dengan perubahan itu semua dengan cepat pula.

Tidak ingin mencari salah dan benar hanya sebagai warga negara turut serta peduli terhadap kondisi negara dan bangsanya agar tetap dalam kehidupan yang terkendali baik dan tenang.

Pembangunan yang dilakukan secara perlahan namun meningkat tanpa terasa perubahan terjadi dan masyarakat tidak panik menjalani dan menghadapi perubahan tersebut. Itulah sejatinya cara mengelola negara yang lebih tepat, kualitas SDM juga meningkat jadi tujuan pembangunan infrastruktur dan pembangunan SDM seirama terbangun.

Inilah kualitas kehidupan nasional yang diharapkan dapat diterapkan oleh semua pemimpin. Semoga pemerintah saat ini yang sedang mengemban amanah rakyat dapat mendongkrak sumber ekonomi baru secara terukur dan bertanggung jawab dalam arti tidak mengabaikan pembangunan manusianya sebagai pengguna bagi infrastruktur yang telah dibangun, agar semua tetap terjaga baik.

Jika sudah terbangun baik namun tidak ada yang menggunakannya, ini adalah sikap mubazir yang harus dihindari oleh semua pemimpin. Semoga kehidupan bangsa Indonesia semakin baik dan selamat, mampu mengayuh perjuangan hingga sampai pada kehidupan bersama yang lebih maju dan sejahtera, amin.

***

Tags : ekonomi