Ekonomi

Pandu Tani Indonesia (PATANI) Membangun Negeri

Sabtu, 5 Juni 2021, 13:06 WIB
Dibaca 72
Pandu Tani Indonesia (PATANI) Membangun Negeri
Petani (Foto: Sindonews.com)

Kondisi Indonesia saat ini adalah cermin dari bangsa Indonesia yang hanya bersandar kepada pemerintah untuk mendapatkan sumber ekonomi rakyatnya. Sehingga negara jadi bahan bancakan atau rebutan, ibarat di mana ada gula di situ ada semut yang berarti hampir seluruh anak bangsa mendekati kekuasaan atau pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Akhirnya, ini memunculkan perilaku berlomba menggapai posisi puncak dengan mendekati mereka yang dianggap dapat memberi peluang dan kemudahan bagi tujuan dan keberlanjutan ekonomi. 

Selama dalam koridor yang dapat dipertanggungjawabkan tidak masalah, tetapi jika sudah eksploitatif sifatnya menjadi bertolak belakang dengan sikap manusia yang berakal yang taat pada aturan dan menjunjung tinggi etika moral sebagai sistem nilai, tentu memprihatinkan.

Dengan cara menyingkirkn orang lain bahkan yang berhak pun demi mendapatkan sebuah peluang. Akhirnya sesama saudara sebangsa saling menyakiti berdampak tidak terjadi pemerataan ekonomi yang diharapkan.

Ini merupakan dampak dari pemerintah yang belum mampu menyiapkan ketersediaan lapangan kerja yang cukup bagi rakyatnya.

Bangsa besar adalah bangsa yang mampu menciptakan peluang yang terus dapat diberdayakan bagi kepentingan dan kemajuan diri sendiri setiap individu, setiap warga negara berperan besar dan berkontribusi untuk menyumbangkan hal terbaik bagi negerinya dengan begitu negeri akan lebih mudah maju. Dengan terbukanya lapangan kerja baru secara mandiri dari elemen masyarakat maka dengan sendirinya sudah terbentuk kemapanan sikap, mental dan ekonomi rakyat.

Sebagai manusia dewasa yang terdidik baik memiliki kemampuan lebih secara mandiri, tidak selalu berfokus untuk mengambil bagian keuntungan dari proses kerja pemerintah. Karakter yang harus diciptakan bagaimana membangun dan memajukan negara tapi bukan melemahkan dengan cara menggerogoti terus menerus, pada akhirnya merusak sistem yang ada.

Diperlukan lebih banyak elemen masyarakat yang mampu menciptakan lapangan kerja secara mandiri walau tidak bisa terlepas adanya kerjasama dengan pemerintah (regulasi) tetapi tidak bersandar secara total karena pengendali utama adalah elemen-elemen yang mampu berdikari tersebut. 

Seperti saat ini dengan hadirnya kekuatan elemen bangsa yang sangat peduli pada ketahanan pangan sebagai kebutuhan dasar manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, Pandu Tani Indonesia (PATANI) yang digawangi oleh beberapa tokoh senior seperti Sarjan Tahir, Anton Apriyantono, Prof. Hermanto Siregar, Marisa Haque dan beberapa tokoh lainnya yang memiliki potensi sama menggalang kekuatan baru berfokus menggerakkan pertanian nasional yang terkenal sebagai negara agraris dengan iklim tropis.

Untuk mendukung upaya tersebut secara maksimal dengan membangun Pusat Kendali Nasional Kampung Patani (PPN-KP) di kampung Cimande kabupaten Bogor, Jawa Barat yang dalam waktu dekat akan diresmikan oleh tokoh muda nasional yang sangat peduli lingkungan yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dengan harapan bahwa kemandirian pangan harus menjadi kekuatan nasional yang stabil, dapat mensejahterahkan kehidupan para petani dan rakyat Indonesia. 

Mampu menciptakan image petani modern dengan tampilan berbeda agar diminati generasi muda Indonesia, dimulai dari tidak memiliki lahan hingga memiliki lahan yang diolah secara berkelanjutan otomatis terbuka lapangan kerja baru dari sektor pertanian yang cukup menantang di era modern saat ini. Jika pemerintah mampu menciptakan lapangan kerja baru yang cukup kemudian didukung terbukanya lapangan kerja dari elemen masyarakat secara swadaya, maka akan menghilangkan kebiasaan tidak terdidik selalu berebut manisnya gula. Peluang juga bisa berasal dari situasi yang tidak bersahabat tetapi mampu mengubahnya menjadi potensi baik yang bisa dikembangkan, itulah sebuah kemuliaan. 

Bangsa Indonesia yang terkenal sebagai masyarakat yang sangat mencintai lingkungan, berprinsip dengan "merajut potensi desa, dapat merebut pasar dunia".

***