Budaya

Membesarkan Anak dengan Ikhlas Tidak Berharap Balas

Jumat, 23 April 2021, 16:34 WIB
Dibaca 192
Membesarkan Anak dengan Ikhlas Tidak Berharap Balas
Keluarga ilustrasi (Foto: hipwee.com)

Masih sangat banyak orangtua di Indonesia berpikir bahwa anak-anak yang telah dilahirkan dan dibesarkan berfungsi untuk menjaga dan merawat orangtua di masa tua dengan tidak menelantarkannya. Sepakat bahwa orangtua telah mendidik anak-anak dari kecil hingga remaja/dewasa dan menjadi orang-orang yang sukses. Telah memberikan penghidupan, dengan kasih sayang yang besar serta memenuhi seluruh kebutuhannya.

Tak jarang bahkan anak-anak banyak yang menjawab jika ditanya hal apa yang diharapkan jika sukses, hampir merata menjawab ingin membahagiakan orangtua dengan cara membelikan rumah, mengajak jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah, bahkan mewujudkan agar orangtua bisa menunaikan ibadah haji atau umroh ke tanah suci bagi umat muslim.

Alangkah indahnya pesan yang disampaikan anak-anak tersebut, orangtua mana yang tidak bahagia mendengar anak-anak mereka sangat bijak. 

Namun sejatinya bagi orangtua, jangan pernah menuntut dan membebani anak-anak di usia senjanya. Menurut Cigna 360 Well Being survey 2018, setiap 8 dari 10 orangtua mengharapkan anak-anak mereka merawat mereka di masa tua. Dengan harapan anak-anak yang menanggung kebutuhan mereka dan juga melakukan hal yang tidak bisa mereka lakukan lagi. Hal ini tentu membuat kondisi anak-anak terbebani di mana mereka juga memiliki tanggung jawab besar untuk mendukung kehidupan keluarganya, membesarkan anak-anak mereka yang masih panjang perjalanan hidup yang dilalui sementara di sisi lain harus mengurus kebutuhan orangtua di masa tua.

Apalagi jika finansial anak-anak masih lemah, orangtua harus bijak memahami dan menyikapi kondisi ini dengan tidak menempatkan anak-anak pada posisi demikian. 

Seringkali opini yang melekat pada image masyarakat umum menganggap bahwa anak-anaklah yang bertugas melakukan perawatan terhadap orangtua di masa tua, sebagai balas budi sudah dilahirkan dan dibesarkan hingga sukses. Anak-anak yang dilahirkan berhak untuk hidup lebih baik dari keadaan yang dialami orangtua di masa dulu, dengan begitu akan terbentuk pola pikir yang lebih terbuka berdampak harmoni. Kebanyakan orangtua takut menghadapi kehidupan menjelang usia senja, takut kesendirian karena semakin jauh dari anak-anak baik secara fisik maupun relationship akibat kondisi real yang memang berbeda. Bahkan seringkali dianggap sebagai anak durhaka jika terkesan mengabaikan orangtua.

Bagi para orangtua harus sadar bahwa anak-anak memiliki kehidupan yang sangat berharga dan mereka berhak atas kebahagiaan hidupnya.

Dengan tidak membebani anak-anak, dengan melihat dan tahu mereka bahagia saja sejatinya itu adalah kebahagian hakiki bagi orangtua sebagai penyemangat diri dan penghibur hati. 

Tidak berharap di usia tua memaksa anak-anak mengurus orangtua, bukan berarti sama sekali melupakan orangtua, tapi berikan mereka ruang dan jadilah mandiri, tetap kokoh, memiliki banyak teman seusia dan berada di lingkungan yang sesuai tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, semua terasa ringan dan wajahpun penuh senyuman, itulah sumber kekuatan bagi orangtua di usia senja. 

Mulai untuk merencanakan hal-hal seru dan mengasyikan yang bermanfaat bagi banyak orang walau usia tidak muda lagi dengan cara menginspirasi, agar semakin luas orang yang terbuka wawasan pikirnya. 

Persiapan matang di masa tua bagi orangtua antara lain ; 

~ Persiapan mental, siap menerima kodrat menjadi tua dan kemampuan semakin terbatas. 

~ Rencanakan untuk mengisi waktu dengan kegiatan sederhana yang menyenangkan seperti membaca, menulis puisi, menulis kata mutiara, melukis, berkebun dan berwisata ke tempat yang indah namun tidak menyulitkan menjalaninya.

~ Perbanyak teman atau sahabat dan lakukan diskusi-diskusi ringan untuk tetap terjaga kepedulian dan perhatian terhadap lingkungan. 

~ Membuat dan menyelesaikan sebuah karya secara bersama atau berkelompok, tidak terasa waktu telah berlalu.

~ Tetap menjaga spirit dan kebersihan diri/tubuh agar selalu menyenangkan.

~ Persiapkan kebutuhan di masa tua tentang kebutuhan pokok dan darimana sumbernya, bisa dari dana pensiun, tabungan dan investasi.

~ Anak-anak perlu mengetahui rencana ini agar mereka dapat menyesuaikan dan lebih tenang.

Dengan demikian, orangtua tidak lagi perlu bergantung kepada anak karena membebani mereka itu sama dengan menyulitkan perasaan kita sendiri dan di masa tua anak-anak juga tidak akan membebani cucu-cucu. Menjadi pola hidup yang sehat secara psikis bagi seluruh orangtua di Indonesia, dengan begitu bisa diputus apa itu yang disebut dengan anak durhaka, karena terkesan menelantarkan orangtua.

Orangtua lah pemilik kendali utama dan terdepan agar semua kondisi dapat terjaga baik, kunci hidup tenteram bahagia hanya ada pada sikap dan pola berpikir orangtua yang bijak. Ikhlas melahirkan dan membesarkan anak-anak tanpa pamrih tidak berharap balas, karena bagi orangtua tawa anak-anak adalah denyut jantung hati kita.

***