Budaya

Suku Anak Dalam Muara Bungo Jambi

Kamis, 11 November 2021, 09:31 WIB
Dibaca 132
Suku Anak Dalam Muara Bungo Jambi
Suku Anak Dalam (Foto: liputan6.com)

Saat orang tua dipindah tugaskan ke Muara Bungo Jambi untuk diamanahkan sebuah perkebunan kelapa hibrida (Kelapa hibrida berasal dari kata dasar kelapa yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kelapa yang dihasilkan dari persilangan antara dua induk yang berbeda). Menjadi fokus orangtua dalam mengelola perkebunan tersebut yang merupakan tanggung jawab sebagai staf di pusat penelitian kelapa (PPK).

Sebuah pengalaman menarik dan berharga bagi saya mengikuti kepindahan orangtua ke Muara Bungo, bagaimana tidak, sebagai orang yang berasal dari provinsi lain (Sumatera Utara) kemudian berada di tempat baru, saya dapat bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda suku budayanya dengan saya (Batak-Jawa).

Masyarakat Muara Bungo memiliki karakter yang begitu lembut, ramah, sopan dan saling menghormati antar sesama masyarakatnya yang menghadirkan ruang sosial sejuk, damai dan saya menyenangi lingkungan baru ini. Namun ada satu hal yang sangat menarik dan mengesankan bagi saya, saat orangtua mengajak berkunjung ke pedalaman perkebunan kelapa hibrida, saya sendiri sangat menyukai buah kelapa karena kelapa dan airnya sangat enak plus memiliki banyak khasiat untuk kesehatan seperti menjaga kesehatan jantung, memiliki kandungan antioksidan, menurunkan tekanan darah, menjaga kesehatan kulit dan masih banyak khasiat lainnya.
Saat memasuki pedalaman perkebunan, saya melihat ada sekumpulan orang yang tinggal di hutan dengan tatapan mata tidak berkedip saat melihat orang-orang seperti kami di antara sela-sela pohon kelapa.

Sementara saya sendiri juga terkesima melihat mereka, kok masih ada orang tinggal di pedalaman hutan seperti ini dengan berpakaian ala kadarnya terkesan sangat menyatu dengan alam, akhirnya kami jadi saling menatap dan akupun memberikan senyuman kepada mereka.

Ternyata mereka ini yang disebut suku anak dalam atau dengan nama lain suku kubu yang tinggal di hutan Muara Bungo, Jambi. (Suku kubu atau suku anak dalam atau orang rimba atau orang ulu adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di pulau Sumatera, dikategorikan sebagai masyarakat terasing yang berdiam di beberapa kabupaten provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang, Wikipedia)

Jujur, saya sangat kagum dan respek melihat kehidupan suku anak dalam yang begitu sederhana cara hidupnya mengingat mereka adalah entitas yang sama dengan kita semua sebagai manusia yang memiliki akal dan pikir.

Tapi mereka hidup dengan cara yang berbeda dengan manusia modern, bahkan mereka menjalani kehidupan primitif dan sangat membatasi aktivitas sehari-hari. Hidup yang sangat sederhana dengan rumah beserta isinya yang seadanya. Untuk mendukung kehidupannya, mereka mencari tumbuhan di hutan dan meramunya, kemudian berburu dengan menggunakan lembing kayu, tombak bermata besi dan parang. Melihat kondisi mereka secara langsung, serasa ada rasa trenyuh di hati karena melihat kehidupan mereka yang hanya berputar di area sangat terbatas di tengah hutan.

Ini suatu nilai kehidupan lain yang amat mahal bagi kekayaan hayati Indonesia, masih ada suku anak bangsa yang hidup seperti di Jaman pra sejarah di tanah air Indonesia saat ini. Di sisi lain menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai orang Indonesia karena ternyata sang pencipta hidup telah memberikan alam yang benar-benar kaya bagi negeri ini. Sejatinya suku anak dalam terus terjaga dan terlindungi kelestarian budayanya, karena ruh mereka sudah memberikan sebuah pelajaran dan pesan berharga kepada manusia Indonesia khususnya yang sudah jauh meninggalkan kehidupan alamiah berdampingan dengan alam, sebagai manusia modern yang sangat kental nuansa artifisial penuh kepalsuan dan nilai kemanusiaan yang semakin menipis. Hidup yang sesungguhnya dari mereka sejatinya telah mengajarkan pada kita semua untuk tunduk dengan alam, karena alamlah maka kehidupan manusia masih ada hingga sekarang.

Hal-hal seperti ini seringkali terabaikan oleh pemerintah setempat dan pemerintah pusat, sejatinya ini merupakan kebanggaan bahwa ada kekayaan humaniora yang tidak dimiliki negara lain di dunia tapi hanya ada di Indonesia.

Bagi masyarakat internasional yang sangat menyukai giat eksplorasi, tentu ini menjadikan minat mereka untuk dijadikan sebagai objek penelitian yang mengkayakan sumber literatur bagi pengetahuan dan peradaban dunia yang memiliki nilai universal tinggi.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus serius memperhatikan keunikan yang ada di negara/wilayahnya masing-masing utama dalam hal ini di Kabupaten Muara Bungo, Jambi. Dengan tidak mengubah pola dan gaya hidup mereka menjadi modern, karena itu adalah hak hidup mereka yang harus dihormati sebagai keunikan dunia berada di bumi Indonesia.

***