Budaya

Karakter Indonesia Fokus Mengejar Juara Sejatinya Berhasil Bersama

Selasa, 26 Oktober 2021, 11:29 WIB
Dibaca 51
Karakter Indonesia Fokus Mengejar Juara Sejatinya Berhasil Bersama
Juara.

Akibat dijajah selama ratusan tahun membuat karakter cikal bakal masyarakat Indonesia menjadi pribadi yang tertekan. Sehingga dibutuhkan konsep pendongkrak yang kuat untuk membangkitkan spirit untuk maju sebagaimana manusia di muka bumi sebagai makhluk yang beraqal dan sebagai khalifah untuk menjalankan sunnatulloh. Membangkitkan dari situasi miskin saja tidak mudah apalagi dari mental yang tertekan oleh para penjajah asing selama itu.

Itu mengapa konsep membangun karakter anak bangsa salah satunya dengan berorientasi pada capaian tertinggi sebuah prestasi.

Penting untuk memunculkan karakter demikian agar segera meningkat kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Namun karena dasarnya karakter masyarakat Indonesia secara umum adalah masyarakat spiritual, lebih sebagai pengikut daripada sebagai pembuka jalan atau pemimpin akhirnya tidak terlalu membawa dampak manfaat besar bagi lainnya.

Jika terfokus membentuk karakter berprestasi dengan cepat, tentu akan berakhir dengan cepat pula. Inilah kondisi yang dirasakan hari ini di ruang kehidupan nasional dampak dari mengejar kemashuran dengan cepat, tapi secara nilai kebersamaan untuk maju belum dirasakan dengan optimal. Hasil yang terbentuk dengan lambat dan teratur lebih bertahan dengan baik. Inilah sejatinya konsep peningkatan kualitas SDM yang ideal bagi karakter bangsa Indonesia. Orang-orang bijak tidak menyukai jalan pintas.

Memang belum ada penelitian ilmiah yang meneliti bahwa lambat majunya sebuah negara akibat SDM Indonesia terlalu fokus mengejar prestasi tertinggi, menjadi yang terbaik atau sebagai sang juara di semua bidang kehidupan di level nasional maupun internasional.

Karena terlalu berorientasi pada popularitas, akhirnya tidak bertahan lama. Dimaksudkan untuk menginspirasi lingkungan lebih luas, kenyataannya jika berbicara tentang kualitas SDM tidak semudah itu, dibutuhkan perhatian terus menerus yang besar dari para stakeholders untuk mengubah mindset pikir dan perilaku keseharian hidup anak bangsa dengan didukung pula oleh ketersediaan anggaran yang efektif maka setiap individu menjadi pribadi terdidik baik, menarik dan mandiri.

Jika karakter ini terbangun merata, maka lebih mudah memunculkan kepercayaan diri bagi setiap individu untuk berani mengeksplorasi apapun yang menjadi kesukaannya dan menghasilkan manfaat, namun tetap harus bertanggung jawab. Manfaat adalah hasil yang berasal dari segala makhluk atau benda, bila ada orang yang ingin menguasai sendiri, maka akan banyak mudharatnya. Dengan demikian dapat memberi kepercayaan bagi orang lain untuk menitipkan amanah karena yakin dapat menyelesaikan amanah tersebut dengan baik. Jika pola ini terbangun maka akan membentuk ruang sosial lebih positif dan maju.

Oleh karena itu fokus utama dari pembangunan karakter anak bangsa harus bisa membentuk karakter baik yang sama untuk berkembang, apakah dari pendidikan formal maupun dari lingkungan kehidupan masing-masing.

Tidak ingin menyalahkan siapapun, terpenting semakin ke sini semakin disadari akan dampak baik atau buruk sebuah konsep yang digunakan untuk meningkatkan kualitas SDM anak bangsa khusus bagi pembentukan karakternya. Jika tidak baik dapat diubah menyesuaikan tuntutan yang dibutuhkan. Situasi ini dengan sendirinya membentuk lingkungan kehidupan lebih tertib, nyaman dan produktif.

Tulisan ini sebagai pengingat bagi semua, hanya pikiran seorang ibu yang peduli atas perkembangan lingkungan nasional. Di zaman yang terus berubah, tantanganpun mengalami perubahan, patut rasanya setiap SDM Indonesia mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. Sebagai seorang warga negara Indonesia yang memiliki tanggung jawab turut serta memajukan negerinya dengan terus mengamati perkembangan lingkungan strategis pada pembentukan karakter SDM yang diharapkan mampu menghadapi dinamika agar anak bangsa tidak selalu mengeluh dan tertinggal dalam kehidupan yang semakin modern.

***

Tags : budaya