Budaya

Brain Drain dari Wilayah Perbatasan RI ke Sarawak

Senin, 24 Agustus 2020, 12:48 WIB
Dibaca 100
Brain Drain dari Wilayah Perbatasan RI ke Sarawak
Budaya sama manusia wilayah perbatasan RI dengan di Sarawak, Malaysia. Namun brain drain, larinya kaum cerdik cendikia dan manusia terampil, ancaman serius. Hal yang perlu disiasati dan diwaspadai.

Budaya sama manusia wilayah perbatasan RI dengan di Sarawak, Malaysia. Namun brain drain, larinya kaum cerdik cendikia dan manusia terampil, ancaman serius. Hal yang perlu disiasati dan diwaspadai.

Masalah perbatasan Indonesia- Malaysia, bukan hanya soal lintas batas. Penyelundupan, masuk-keluarnya barang terlarang, imigran gelap, dan ketahanan-keamanan. Namun, yang lebih dari itu: brain drain dan nasionalisme kebangsaan.

Itulah masalah perbatasan di Kab. Sanggau dan Sekaau, Kalbar saat ini. Perlu diimbuhkan pula di sini bahwa Kabupaten Sekadau termasuk wilayah yang berada di jalur perbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Dari jalur perhubungan darat, jarak kota Sekadau dan wilayah perbatasan (Entekong/ Tebedu) sekitar 212 km saja jaraknya. Sangat baik kondisi badan, marka, dan sekitar jalan raya. Lancar pula akses jalannya.

Lebih-lebih dari Simpang Tanjung (wilayah Kab. Sanggau) hingga Entekong/ Tebedu. Jalan raya yang merupakan jalan negara dalam kondisi yang sangat baik. Sedemikian rupa, sehingga jarak tempuh dari Sekadau-Entekong/ Tebedu kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Dengan demikian, jarak Sekadau – Sarawak (Malaysia) lebih dekat dibandingkan dengan jarak Sekadau – Pontianak (400 km).

Malaysia sendiri gencar mempromosikan perguruan tingginya di Kalimantan Barat. Dengan tujuan, agar banyak siswa dan orang tua menempuh pendidikan tinggi di negeri jiran.
Asal mafhum saja, pendidikan ini memicu industri ikutan lain, seperti: kuliner, penginapan, dan konsumsi. Ini hasil studi yang saya lakukan, di Jakarta.

Mengingat penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah berlangsung dan dikhawatirkan terjadi brain drain (fenomena dimana berimigrasinya penduduk dari suatu negara yang memiliki tingkat pendidikan dan skill yang tinggi ke negara lain). Terutama di bidang pendidikan, jasa, teknologi, dan segala bidang profesi ke luar negeri (negara tetangga). Dalam hal ini, Badan Penyelenggara Pendidikan merasa terpanggil sebagai warga negara untuk berusaha membendung fenomena brain drain tersebut dan agar siswa dari wilayah perbatasan tidak menuntut ilmu atau sekolah ke negeri tetangga, Malaysia.

Harian Republika (13 Oktober 2013) di bawah judul “Warga Perbatasan Kalbar Pilih Sekolahkan Anak di Malaysia” mencatat bahwa “Sebagian warga perbatasan Indonesia-Malaysia di wilayah Kalimantan Barat masih memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Malaysia. Pertimbangan utama adalah biaya pendidikan yang murah dan prospek ke depan.”

Merespons fenomena tersebut, dan terdorong semangat kebangsaan yang tinggi, Badan Penyelenggara Pendidikan merasa terpanggil menjawab masalah yang dipandang sangat penting sekaligus urgen tersebut. Meski orang tua memilih menyekolahkan anak-anaknya ke Malaysia dengan alasan “biaya pendidikan yang murah dan prospek ke depan”, hal ini dapat dipatahkan dengan dalih bahwa nilai-nilai yang didapat dan pengaruh sosial budaya dari negara lain jauh lebih mendasar dan penting dikedepankan.

Dengan kata lain, semangat dan nilai-nilai kebangsaan di atas segalanya. Oleh karena itu, perlu didirikan sekolah/pendidikan tinggi yang menjawab kebutuhan masyarakat setempat agar tidak mencari sekolah lain apalagi ke luar negeri yang berbeda kultur dan nilai-nilainya.

Isu perbatasan ini menjadi demikian urgen pada saat ini. Dibukanya pos lintas batas Entekong-Tebedu pada pada tahun 1989 semula memang dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi dan kerja sama antarsuku bangsa yang masih memiliki hubugan keluarga. 

Setiap hari, tidak kurang dari 1.000 hingga 1.500 orang melewati Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong. Ada yang menggunakan bis umum atau kendaraan pribadi. Ada juga yang naik bus turun di terminal Entikong, lalu "menyeberang" ke Tebedu di Sarawak, dan melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum setempat.

Siasat itu perlu. Agar tidak terjadi brain drain dari perbatasan RI ke negeri tetangga, Sarawak, Malaysia. Sebab kita, bukan kami, sebagai bangsa yang rugi.  

Sejak dioperasikan tahun 1989, tahun 2017 mulai terlihat adanya perubahan yang cukup mencolok di PPLB Entikong. Terutama sejak Presiden Joko Widodo menegaskan komitmennya dalam membangun perbatasan Negara(http://kalbar.antaranews.com/berita/338457/menelusuri-jalur-pontianak-kuching).

Hubungan kedua negara semestinya saling menguntungkan (win-win), termasuk dalam hal pendidikan. Akan tetapi, dari segi pendidikan, masih perlu kerja keras dan perjuangan sebab banyak siswa Kalimantan Barat memilih kuliah di Malaysia daripada sebaliknya.
 
Pada saat ini, cukup banyak orang tua di Kalbar menyekolahkan/ menguliahkan anaknya ke Malaysia, antara lain di: University Kebangsaan Malaysia, Swinburne University Sarawak, dan Unimas.Alasannya ialah: belum tersedianya bidang ilmu atau jurusan yang sama di Kalimantan Barat (wawancara dengan Munaldus, orang tua mahasiswa dari Sekadau dan Corry Soesana, agen perguruan tinggi Kalbar untuk perguruan tinggi di Kuching, Sarawak - Malaysia yang berdomisili di Pontianak).

Sementara itu, pihak Malaysia sendiri gencar mempromosikan perguruan tingginya di Kalimantan Barat dengan tujuan agar banyak siswa dan orang tua menempuh pendidikan tinggi di negeri jiran. Kedutaan Besar Malaysia yang diwakili Penasihat Kedutaan Malaysia bidang Pendidikan, Yahurin Mohd. Yassin beserta rombongan mengunjungi beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Pontianak. Satu di antaranya sekolah yang dikunjungi adalah SMKN 3 Pontianak. Dalam kunjungan yang bertema “Siri Jelajah Indonesia Edisi 1” 2012 tersebut Yahurin Mohd Yassin mengatakan tujuan kegiatan ini untuk memberi informasi tentang perguruan tinggi di Malaysia. (http://pontianak.tribunnews.com/2012/02/23/univesitas-malaysia-gait-siswa-kalbar).

Mengingat dan mempertimbangkan aspek wilayah/ isu perbatasan ini maka Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi, dalam hal ini  Yayasan Pendidikan Keling Kumang (YPKK), berupaya menjawab kebutuhan masyarakat setempat dengan mendirikan perguruan tinggi berbentuk institut.
 
Kekhasan perguruan tinggi dapat dilihat dalam rumusan visi dan misi masing-masing Program Studi, termasuk distribusi mata kuliahnya, dan profil lulusan. Kekhususan dan kekhasan ITKK diharapkan menjadi daya tarik masyarakat Kalimantan Barat, sekaligus menjawab dan meminimalisasikan kecenderungan dan arus masyarakat Kalimantan Barat kuliah di Malaysia.

Siasat itu perlu. Agar tidak terjadi brain drain dari perbatasan RI ke negeri tetangga, Sarawak, Malaysia. Sebab kita, bukan kami, sebagai bangsa yang rugi.

Tags : budaya